Pengertian, Tujuan Dan Prinsip Supervisi Menurut Ahli

Pengertian Supervisor Pendidikan 
Sebelum membahas mengenai istilah supervisor pendidikan, alangkah lebih baiknya kita mengetahui terlebih dahulu mengenai pengertian supervisi dalam pendidikan. Menurut Sagala, supervisi yaitu sebagai bantuan dan bimbingan profesional bagi guru dalam melaksanakan tugas instruksional guna memperbaiki hal belajar dan mengajar dengan melakukan stimulasi, koordinasi dan bimbingan secara kontinu untuk meningkatkan pertumbuhan jabatan guru secara individual maupun kelompok.

Selain itu, menurut Bafadal, supervisi adalah suatu layanan profesional berbentuk pemberian bantuan kepada personel sekolah dalam meningkatkan kemampuannya sehingga lebih mampu mempertahankan dan melakukan perubahan penyelenggaraan sekolah dalam rangka meningkatkan pencapaian tujuan sekolah.

Sedangkan yang dimaksud supervisor merupakan orang yang melakukan supervisi dalam pendidikan. Menurut Shulhan, supervisor yaitu orang yang berfungsi memberi bantuan kepada guru-guru, menimbulkam motif guru ke arah peningkatan suasana proses belajar mengajar yang lebih baik.

Kegiatan supervisi pendidikan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang apalagi oleh orang yang tidak dipersiapkan terlebih dahulu, karena seorang supervisor adalah orang yang profesional ketika menjalankan tugasnya. Ia bertindak atas dasar kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Tidak hanya itu, seorang supervisor biasanya adalah seorang status leader oleh kedudukannya dan oleh karena itu ia memikul tanggungjawab untuk merealisasikan potensi kreatifitas dari orang yang dibina dalam memecahkan setiap problema dengan cara mengikut sertakan orang lain untuk berpertisipasi bersama.

Oleh karena itu, supervisi pendidikan merupakan kegiatan yang harus dilakukan guna membantu memperbaiki dan meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran secara efektif. Sedangkan supervisor hendaknya memahami bagaimana supervisi dilakukan guna menghindari kesalahpahaman dengan guru yang disupervisi.

1. Tujuan dan Prinsip Supervisi.
Supervisi tidak terjadi begitu saja. Oleh kerena itu, dalam setiap kegiatan supervisi terkandung maksud-maksud tertentu yang ingin dicapai dan hal itu terakumulasi dalam tujuan supervisi. Tujuan dapat berfungsi sebagai arah atau penuntun dalam melaksanakan supervisi, serta dapat sebagai tolok ukur dalam menilai efektif-tidaknya pelaksanaan supervisi dan berkaitan erat dengan tujuan pendidikan di sekolah.

Secara umum tujuan supervisi adalah untuk mengembangkan dan mencapai proses belajar mengajar yang relevan dan efektif melalui peningkatan kemampuan guru. Selain itu, Arikunto mengemukakan tujuan utama kegiatan supervisi pendidikan adalah memberikan bantuan teknis dan bimbingan kepada guru (dan staf sekolah yang lain) agar personel tersebut mampu meningkatkan kualitas kerjanya, terutama dalam melaksanakan proses pembelajaran.

Sejalan dengan hal tersebut, tujuan umum dari supervisi pendidikan adalah:
  1. Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia dewasa yang sanggup berdiri sendiri.
  2. Membina orang-orang yang disupervisi menjadi manusia pembangunan dewasa yang berpancasila.
  3. Perbaikan situasi pendidikan dan pengajaran pada umumnya dan peningkatan mutu mengajar dan belajar pada khususnya.
Bertitik tolak dari tujuan supervisi secara umum diatas, maka tujuan supervisi secara khusus adalah:
  1. Meningkatkan kinerja siswa di sekolah dalam perannya sebagai peserta didik agar dapat mencapai prestasi belajar secara optimal.
  2. Meningkatkan mutu kinerja guru di sekolah sehingga berhasil membantu dan membimbing siswa mencapai prestasi belajar dan pribadi sebagaimana diharapkan.
  3. Meningkatkan keefektifan kurikulum sehingga berdaya guna dan terlaksana dengan baik di dalam proses pembelajaran.
  4. Meningkatkan keefektifan dan keefisiensian sarana dan prasarana yang ada untuk dikelola dan dimanfaatkan dengan baik.
  5. Meningkatkan kualitas pengelolaan sekolah, khususnya dalam mendukung terciptanya suasana kerja yang optimal.
  6. Meningkatkan kualitas situasi umum sekolah sedemikian rupa sehingga tercipta situasi yang tenang dan tentram serta kondusif bagi kehidupan sekolah pada umumnya.

Selain itu, Sagala juga merumuskan tujuan-tujuan supervisi pendidikan secara khusus, yang meliputi:
  1. Membina kepala sekolah dan guru untuk lebih memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya dan peranan sekolah mencapai tujuan itu.
  2. Memperbesar kesanggupan kepala sekolah dan guru untuk mempersiapkan peserta didiknya menjadi anggota masyarakat yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat.
  3. Membantu kepala sekolah dan guru-guru mengadakan diaknosis secara kritis terhadap aktifitas dan kesulitan dalam belajar mengajar.
  4. Meningkatkan kesadaran kepala sekolah, guru, dan warga sekolah lainnya terhadap tata kerja yang demokratis dan kooperatif.
  5. Memperbesar ambisi guru untuk meningkatkan mutu karyanya secara maksimal.
  6. Membantu pimpinan sekolah untuk memopulerkan sekolah kepada masyarakat dalam pengembangan program-program pendidikan.
  7. Melindungi orang-orang yang disupervisi terhadap tuntutan-tuntutan yang tidak wajar dan kritik-kritik tidak sehat dari masyarakat.
  8. Membantu kepala sekolah dan guru untuk mengevaluasi aktifitasnya dalam konteks tujuan-tujuan aktivitas perkembangan peserta didik.
  9. Mengembangkan rasa persatuan dan kesatuan antar guru.
Kegiatan supervisi haruslah merupakan kegiatan tolong menolong yang berlangsung terus menerus dan sistematis yang diberikan kepada guru-guru agar mereka semakin bertumbuh dan berkembang. Seorang supervisor dalam melaksanakan kegiatan supervisi agar benar-benar efektif dalam usaha mencapai tujuan hendaknya bertumpu pada prinsip-prinsip berikut :

1) Prinsip fundamental
Pancasila merupakan dasar atau prinsip fundamental bagi setiap supervisor pendidikan Indonesia. Bahwa seorang supervisor haruslah seorang supervisor sejati.

2) Prinsip ilmiah
a. Sistematis, artinya dilakukan secara teratur, berencana dan kontinyu.
b. Objektif, artinya bukan di dasarkan atas prasangka tetapi didasarkan atas data-data objektif/informasi.
c. Menggunakan instrument yang baik dalam mengumpulkan data/informasi.

3) Prinsip demokratis, yaitu berdasarkan atas dasar musyawarah.

4) Prinsip kooperatif, yaitu dilakukan dalam situasi kerjasama.

5) Prinsip konstruktif dan kreatif, yaitu membina inisiatif guru serta mendorongnya untuk aktif dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang lebih baik.

6) Prinsip terbuka, yaitu bahwa kegiatan supervisi dilakukan dengan terbuka dan terus terang dengan pemberitahuan terlebih dahulu.

7) Prinsip komprehensif, yaitu sarana yang lengkap mulai dari kepala sekolah, guru-guru, tata-usaha, dan meliputi semua aspek yaitu kurikulum, sarana, ketatalaksanaan, keuangan, kesiswaan dan humas.

2. Fungsi, Tugas dan Peranan Supervisor
Fungsi utama supervisi pendidikan tidak hanya ditujukan pada perbaikan dan peningkatan kualitas pembelajaran, namun juga untuk mengkoordinasi, menstimulasi, dan mendorong ke arah pertumbuhan profesi guru. Seperti yang dirumuskan oleh Sahertian, supervisor dalam pendidikan mempunyai 8 fungsi, yaitu :
1) Mengkoordinasi semua usaha sekolah.
2) Memperlengkapi kepemimpinan sekolah.
3) Memperluas pengalaman guru-guru.
4) Menstimulasi usaha-usaha yang kreatif.
5) Memberi fasilitas dan penilaian yang terus-menerus.
6) Menganalisis situasi belajar-mengajar.
7) Memberikan pengetahuan dan keterampilan kepada setiap anggota staf.
8) Memberi wawasan yang lebih luas dan terintegrasi dalam merumuskan tujuan-tujuan pendidikan dan meningkatkan kemampuan mengajar guru.

Di samping itu, menurut Suhardan supervisor memiliki empat fungsi penting yang harus diperankan dalam setiap tugasnya, yaitu :
a) Fungsi pengawasan umum terhadap kualitas kinerja guru dalam membelajarkan peserta didiknya.
b) Membantu guru untuk dapat memahami peserta didik bermasalah yang perlu mendapat bantuan dalam memecahkan masalah belajarnya.
c) Menyediakan informasi baru yang relevan dengan tugas dan kebutuhan baru yang harus dilaksanakan guru, kemudian menyampaikan dalam pembinaan.
d) Sebagai seorang konsultan seorang supervisor harus cakap dan terampil memberi bantuan dalam memecahkan berbagai kesulitan yang dihadapi guru dalam menjalankan tugas utamanya.

Berdasarkan uraian tersebut, tampak bahwa supervisor mempunyai fungsi yang sangat penting dalam upayanya membantu untuk meningkatkan kualitas baik proses maupun hasil pembelajaran di sekolah. Sehubungan dengan hal tersebut, Depdiknas (1994) dalam Banun merumuskan tugas supervisor meliputi; (1) peningkatan kemampuan guru mengelola kegiatan belajar-mengajar; (2) memperbaiki dan meningkatkan sikap profesional guru yang berkaitan dengan kemampuan mengelola kegiatan belajar-mengajar. Di samping itu, terdapat pula tugas-tugas yang wajib dilaksanakan oleh seorang supervisor, yaitu ; (1) tugas pengendalian; (2) tugas sebagai sponsor; (3) tugas sebagai evaluator; (4) tugas sebagai pengawas.

Sehubungan dengan hal tersebut, berikut macam-macam tugas supervisor pendidikan yang lebih riel, yaitu sebagai berikut :
a) Mendiskusikan tujuan-tujuan dan filsafat pendidikan dengan guru-guru.
b) Mengadakan rapat-rapat kelompok untuk membicarakan masalah-masalah umum.
c) Mengadakan pertemuan-pertemuan dengan guru-guru tentang masalah-masalah yang mereka usulkan.
d) Mendiskusikan metode-metode mengajar dengan para guru.
e) Memilih dan menilai buku-buku yang diperlukan bagi murid dan untuk perpustakaan guru-guru.
f) Membimbing guru dalam menyusun dan mengembangkan sumber-sumber atau unit-unit pengajaran.
g) Mengorganisasi dan bekerja dengan kelompok guru dalam program revisi kurikulum.
h) Menginterpretasi data tes kepada guru dan membantu mereka dalam menggunakannya sebagai perbaikan pengajaran.
i) Berwawancara dengan orang tua murid tentang hal-hal mengenai pendidikan.
j) Berwawancara dengan guru dan pegawai untuk mengetahui bagaimana pandangan atau harapan-harapan mereka.
k) Menyiapkan leporan-laporan tertulis tentang kunjungan kelas bagi para kepala sekolah.
l) Menyusun tes-tes standar bersama kepala sekolah dan para guru.

Seorang supervisor dapat dilihat dari tugas yang dikerjakannya. Suatu tugas yang dilaksanakan memberi status dan fungsi pada seseorang. Dalam berfungsi nampak peranan seseorang. Peranan seorang supervisor ialah menciptakan suasana sedemikian rupa sehingga guru-guru merasa aman dan bebas dalam mengembangkan potensi dan daya kreasi mereka dengan penuh tanggung jawab.

Sehubungan dengan hal tersebut, seorang supervisor dalam pendidikan dapat berperan sebagai : (1) koordinator; (2) Konsultan; (3) Pemimpin kelompok; (4) Evaluator.

Selain itu, menurut Sri Banun Muslim ada empat macam peran penting yang hendaknya dilakukan oleh seorang supervisor , meliputi :
1) Mengidentifikasikan masalah-masalah pengajaran. 
2) Bertindak sebagai seorang nara sumber.
3) Melakukan komunikasi antar pribadi. 
4) Bertindak sebagai pelopor perubahan atau pembaharuan dalam sistem sekolah.

3. Model dan Pendekatan Supervisi.
1) Model Supervisi
1. Model supervisi konvensional. Supervisor mengadakan inspeksi untuk mencari serta menemukan kesalahan. Kadang model ini bersifat memata-matai dan menggurui.
2. Model Supervisi yang bersifat ilmiah. Supervisi ini dilaksanakan secara berencana, kontinu, sistematis, dengan menggunakan menggunakan prosedur dan teknik tertentu, serta instrumen pengumpulan data, sehingga memperoleh data yang objektif dari keadaan yang sebenarnya.
3. Model supervisi klinis, merupakan suatu proses bimbingan dalam pendidikan yang bertujuan membantu pengembangan profesional guru khususnya dalam penampilan mengajar, berdasarkan observasi dan analisis data secara teliti dan objektif sebagai pegangan untuk perbaikan tingkah laku mengajar guru.
4. Model supervisi artistik, memandang bahwa mengajar adalah suatu pengetahuan (knowledge), mengajar itu suatu keterampilan (skill), tetapi mengajar juga suatu kiat (art). Demikian juga dengan supervisi, yang merupakan suatu pengetahuan, suatu keterampilan dan juga suatu kiat (artistik).

2) Pendekatan Supervisi
1. Pendekatan direktif. Di sini supervisor memberikan arahan langsung sehingga pengaruh perilaku supervisor lebih dominan. Karena itu supervisor harus benar-benar mempersiapkan diri dengan cara membekali ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan kegiatan supervisi. Dengan tanggungjawabnya supervisor dapat melakukan perubahan perilaku mengajar dengan memberikan pengarahan yang jelas terhadap rencana kegiatan yang akan dievaluasi.
2. Pendekatan nondirektif. Di sini supervisor melakukan pendekatan terhadap masalah dengan cara tidak langsung. Pendekatan nondirektif ini berangkat dari premis bahwa belajar adalah pengalaman pribadi, sehingga pada akhirnya individu harus mampu memecahkan masalah sendiri. Pendekatan ini bercirikan perilaku di mana supervisor mendengarkan guru, mendorong guru, mengajukan pertanyaan, menawarkan pikiran bila diminta dan membimbing guru untuk melakukan tindakan.
3. Pendekatan kolaboratif, merupakan cara pendekatan yang memadukan cara pendekatan direktif dan nondirektif menjadi suatu cara pendekatan baru. Pada pendekatan ini baik supervisor maupun guru bersama-sama bersepakat untuk menetapkan struktur, proses dan criteria dalam melaksanakan proses percakapan terhadap masalah yang dihadapi guru.

4. Kompetensi Supervisor
Untuk dapat melaksanakan tugas dan perannya dengan baik, seorang supervisor harus memiliki sejumlah kompetensi yang diperlukan untuk hal tersebut. Seorang supervisor harus memiliki kompetensi teknis khususnya bidang akademik berkaitan dengan pekerjaan orang-orang yang disupervisi. Karena sasaran utama dari kegiatan supervisi adalah guru dengan tugas utamanya mengajar atau melaksanakan kegiatan belajar mengajar, oleh karenanya supervisor harus pula memiliki kompetensi di bidang keguruan serta menguasai teknik-teknik mengajar. Di samping itu seorang supervisor juga harus memiliki kompetensi manajerial yang tercermin dari ketrampilan supervisor dalam mengadakan hubungan sosial dengan orang-orang yang bekerja dengannya.

Supervisor dikatakan kompeten apabila ia melaksanakan kewajibannya secara efektif. Untuk itu ia perlu memiliki kompetensi-kompetensi, yang meliputi : 
1) Supervisor harus orang yang beragama.
2) Supervisor harus berperikemanusiaan.
3) Supervisor harus berperasaan sosial.
4) Supervisor harus bertindak demokratis.
5) Supervisor harus memiliki kepribadian yang simpatik.
6) Supervisor harus terampil dalam berkomunikasi.
7) Supervisor harus bersikap ilmiah.
8) Supervisor harus menguasai teknik-teknik supervisi.
9) Supervisor harus bekerja berdasarkan tujuan.
10) Supervisor harus dapat membuat dan mempergunakan alat evaluasi.
11) Supervisor harus patuh pada etika jabatannya.

Untuk menjadi seorang supervisor yang baik, seorang supervisor haruslah dilengkapi secara personal maupun profesional sifat-sifat dan pengetahuan yang sesuai dengan profesi jabatannya. Setidaknya seorang supervisor harus memiliki beberapa macam ketrampilan, di antaranya adalah:
1) Keterampilan dalam kepemimpinan (leadership).
2) Keterampilan dalam proses kelompok.
3) Keterampilan dalam hubungan insani.
4) Keterampilan dalam administrasi personal.
5) Keterampilam dalam evaluasi.

Untuk dapat menjalankan fungsinya dengan baik, seorang supervisor hendaknya juga memiliki ciri-ciri pribadi dan sifat-sifat seperti berikut :
a) Berpengetahuan luas tentang seluk-beluk semua pekerjaan yang berada di bawah pengawasannya.
b) Menguasi/memahami benar-benar rencana dan program yang telah digariskan yang akan dicapai oleh setiap lembaga atau bagian.
c) Berwibawa dan memiliki kecakapan praktis tentang teknik-teknik kepengawasan, terutama human relation.
d) Memiliki sifat-sifat jujur, tegas, konsekuen, ramah dan rendah hati.
e) Berkemauan keras, rajin bekerja demi tercapainya tujuan atau program yang telah digariskan/disusun.

5. Posisi Supervisor
Yang dimaksud posisi supervisor adalah kedudukan supervisor dalam personalia pendidikan. Sebagai supervisor mereka berdiri sendiri, tidak ada yang membina sebab sudah profesional, dan tidak mempertanggungjawabkan proses dan hasil kerjanya pada orang lain. 

Secara singkat posisi supervisor dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu :
1) Supervisor sebagai orang kunci. Maksudnya dia sebagai penopang, penggerak dan pemotivasi dinamika guru untuk mencapai kemajuan. Maju untuk diri guru, maju untuk para siswa dan maju untuk sekolah secara keseluruhan.
2) Supervisor sebagai orang di tengah-tengah. Maksudnya dia menjembatani kepentingan kepala sekolah dan kepentingan guru-guru. Sehingga dia harus bisa mengintegrasikan diri baik terhadap kepala sekolah maupun terhadap guru-guru.
3) Supervisor sebagai operator lain. Maksudnya dia mengoperasikan segala sesuatu untuk memajukan profesi guru-guru, dia yang merencanakan supervisi dia pula yang melaksanakan dan menindaklanjuti hasil supervisi itu. Semua dilakukan sendiri atas dasar tanggung jawabnya. Maju tidaknya perkembangan profesi guru seolah-olah bergantung kepada supervisor.
4) Supervisor sebagai penganalisis daerah. Yang paling banyak tahu akan keadaan daerah serta kebutuhan daerah adalah masyarakat di daerah itu sendiri. Untuk itulah tokoh-tokoh yang ada di masyarakat daerah itu dihimpun untuk diajak kerja sama dengan sekolah dalam memajukan pendidikan. Di sinilah supervisor sebagai salah satu petugas sekolah membantu kepala sekolah menganalisis kondisi daerah denagn melibatkan tokoh-tokoh di masyarakat yang bersangkutan.
5) Sebagai supervisor antar hubungan. Maksudnya dia sebagai agen komunikasi antar personalia di sekolah, terutama antar guru-guru, membantu memperlancar komunikasi antara mereka. Dia berusaha menciptakan iklim kerja dan pergaulan yang kondusif.

6. Kepala Sekolah sebagai Supervisor
Tugas dan tanggungjawab kepala sekolah mengalami perkembangan dan perubahan, baik dalam sifat maupun luasnya. Kepala sekolah tidak hanya bertanggung jawab atas kelancaran jalannya sekolah secara teknis akademis saja. Memang itu adalah tugas dan tanggungjawab yang pokok bagi seorang kepala sekolah, namun mengingat situasi dan kondisi serta pertumbuhan sekolah dewasa ini, banyak masalah baru yang timbul yang harus menjadi tanggungjawab kepala sekolah untuk dipecahkan dan dilaksanakannya. 

Pimpinan yang kompeten adalah yang memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan untuk melakukan atau mengerjakan sesuatu. Tetapi kompetensi kepala sekolah tentu ada penyesuaian dengan tuntutan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pemimpin dan manajer di sekolah. Untuk menjamin mutu pelayanan pendidikan dan mutu manajemen pendidikan, maka pengembangan standar kompetensi kepala sekolah meliputi kompetensi kepribadian, kompetensi manajerial, kompetensi supervisi dan kompetensi sosial.

Kepala sekolah bisa melakukan peran yang dijalankan berdasarkan fungsi kedudukan dalam posisi atau kedudukan yang sedang dijalankannya. Keinginan utama para kepala sekolah dalam kegiatan supervisinya, dikonsentrasikan pada peningkatan kualitas pembelajaran yang terarah pada usaha membantu guru agar bisa keluar dari kesulitan mengajar yang dihadapinya dengan cara memperkaya kemampuan dan pengetahuan dalam menjalankan tugasnya.

Kepala sekolah tidak hanya sekedar posisi jabatan tetapi suatu karir profesi. Sebagai supervisor, kepala sekolah bertanggung jawab dalam melakukan upaya perbaikan pengajaran di sekolahnya. Supervisi kepala sekolah lebih diarahkan pada supervisi kunjungan kelas dan pembicaraan individual, karena merupakan teknik supervisi yang paling tepat dipergunakan.

Dalam melaksanakan supervisinya, kepala sekolah berupaya menyediakan kondisi kerja yang terbuka supaya masalah yang akan dipecahkan diketahui terlebih dahulu. Pemahamannya tentang supervisi bukan saja harus menyediakan waktu untuk melakukan kunjungan ke dalam kelas untuk melakukan observasi dan mengikuti berbagai pertemuan, melainkan juga meliputi penyediaan kondisi kerja yang menguntungkan dan memberi kemudahan pada guru-guru dalam melaksanakan tugasnya. Oleh karena itu, mutu kepala sekolah harus ditingkatkan dan diarahkan pada pembentukan kepala sekolah yang efektif berdasarkan tugas pokok dan fungsinya.

Tinjauan Kualitas Pembelajaran
Dalam konteks pendidikan pengertian kualitas mengacu pada proses pendidikan dan hasil pendidikan. Proses pendidikan terlibat di dalamnya antara lain guru, siswa, dan proses pembelajaran. Sedangkan hasil pendidikan mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada setiap kurun waktu tertentu.

Sedangkan pembelajaran adalah sebuah upaya bersama antara pendidik dan peserta didik untuk berbagi dan mengolah informasi dengan tujuan agar pengetahuan yang terbentuk terinternalisasi dalam diri peserta didik dan menjadi landasan belajar secara mandiri dan berkelanjutan. Selain itu, pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa peningkatan kualitas pembelajaran adalah suatu proses yang sistematis yang terus menerus meningkatkan kualitas proses belajar mengajar dan faktor-faktor yang berkaitan dengan itu, dengan tujuan agar menjadi target sekolah dan tujuan pendidikan dapat dicapai dengan lebih efektif dan efisien.

Banyak masalah kualitas dihadapi dalam dunia pendidikan, seperti mutu lulusan, mutu pengajaran, bimbingan dan latihan guru, serta mutu profesionalisme dan kinerja guru. Mutu-mutu tersebut terkait dengan mutu manajerial para pemimpin pendidikan, keterbatasan dana, sarana dan prasarana, fasilitas pendidikan, media, sumber belajar, alat, dan bahan latihan, iklim sekolah, lingkungan pendidikan, serta dukungan dari pihak-pihak yang terkait dengan pendidikan. Semua kelemahan kualitas dari komponen-komponen pendidikan tersebut berujung pada rendahnya mutu lulusan.

Kualitas lulusan yang rendah dapat menimbulkan berbagai masalah. Lulusan yang tidak produktif akan menjadi beban masyarakat, menambah biaya kehidupan dan kesejahteraan masyarakat, serta memungkinkan menjadi warga yang tersisih dari masyarakat. Banyak masalah yang diakibatkan oleh lulusan pendidikan yang tidak berkualitas, upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan merupakan agenda yang sejak lama diperbincangkan, namun tetap saja dunia pendidikan kita masih saja terpuruk. Hal tersbut tidak akan terjadi jika agenda tersebut dijalankan secara serempak pada setiap tingkatan dan oleh setiap pelaku pendidikan, sesuai proporsi masing-masing.

Untuk itu, dalam melaksanakan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran diperlukan beberapa dasar yang kuat agar berhasil, yaitu sebagai berikut:
1. Komitmen pada perubahan
2. Pemahaman yang jelas tentang kondisi yang ada
3. Mempunyai visi yang jelas terhadap masa depan
4. Mempunyai rencana yang jelas

Dalam hal ini kepala sekolah sebagai pimpinan sekolah, memegang peranan penting dalam pengelolaan sekolah dengan manajemen yang sesuai demi keberhasilan pendidikan di sekolah.[1] Sekolah yang berhasil mempertahankan akademiknya, dapat disebabkan antara lain karena sikap kepala sekolah sebagai pemimpin pengajaran yang memfokuskan diri pada pengajaran, memerhatikan lebih dari iklim sekolah, harapan tinggi pada hasil belajar dan monitor kemajuan akademik secara reguler. Dari situ sekolah bisa mengadakan rencana-rencana yang baik untuk mengembangkan sekolah, terutama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Cara lain untuk merangsang adanya peningkatan kualitas pembelajaran adalah dengan cara mengenalkan riset-riset mutakhir tentang pembelajaran kepada stafnya.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pengertian, Tujuan Dan Prinsip Supervisi Menurut Ahli"

Posting Komentar