Pengertian Karakter Siswa Menurut Ahli

Pengertian Karakter Siswa 
Karakter berasal dari bahasa Latin character didalam bahasa Arab disebut juga khuluq artinya watak, tabiat, budi pekerti, sifat-sifat kejiwaan dan akhlak. Secara terminologi (istilah) karakter adalah nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya dan adat istiadat.

Di dalam buku Pendidikan Karakter Masnur Muslich mengutip kalimat Al- Ghazali yang menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak (khuluq), yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi.14Miskawaih mengartikan karakter sebagai suatu keadaan jiwa. Keadaan ini menyebabkan jiwa bertindak tanpa dipikirkan atau dipertimbangkan secara mendalam.

Sebagian para ahli mengaggap karakter hampir sama dengan kepribadian, namun menurut Zubaidi dalam bukunya menyebutkan bahwa ada perbedaan karakter dengan kepribadian, kepribadian cendreung terbebas dari nilai. Karakter merupakan nilai dasar perilaku yang menjadi acuan tata nilai interaksi antara manusia. Secara universal berbagai karakter dirumuskan sebagai nilai hidup bersama berdasarkan atas pilar: kedamaian (peace), menghargai (respect), kerja sama (cooperation), kebebasan (freedom), kebahagiaan (happiness), kejujuran (honesty), kerendahan hati (humility), kasih sayang (love), tanggung jawab (responsibility), kesederhanaan (simplicity), toleransi (tolerance), dan persatuan (unity).

Dari berbagai pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa karakter siswa adalah tindakan yang dilakukan siswa berdasarkan keadaan jiwa yang terjadi secara spontan dan tidak perlu dipikirkan lagi atau bertindak karena telah dilatih secara terus-menerus dan menjadi sebuah kebiasaan sehingga tindakan tersebut terjadi secara spontan.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Karakter Siswa
Siswa bisa menjadi pribadi yang baik dan menjadi manusia yang berakhlak mulia tidak terlepas dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Banyak faktor yang membuat siswa mampu bertindak baik atau sebaliknya bertindak buruk. Heri Gunawan menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter ada 2, yaitu:

1. Faktor Intern
Ada beberapa faktor intern, diantaranya adalah :

a. Insting atau Naluri
Insting adalah suatu sifat yang dapat menumbuhkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berpikir lebih dahulu ke arah tujuan itu dan tidak didahului latihan perbuatan.Naluri merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir yang merupakan suatu pembawaan yang asli.

b. Adat atau kebiasaaan
Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan. Sehubungan kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah dikerjakan maka hendaknya manusia memaksakan diri untuk mengulang-ulang perbuatan baik sehingga menjadi kebiasaan dan terbentuklah akhlak (karakter) yang baik padanya.

c. Kehendak/Kemauan
Salah satu kekuatan yang berlindung di balik tingkah laku adalah kehendak atau kemauan keras (azam).

d. Suara batin atau suara hati
Suara batin berfungsi memperingatkan bahaya dari perbuatan buruk dan berusaha untuk mencegahnya, di samping dorongan untuk melakukan perbuatan baik. Suara hati dapat terus dididik dan dituntun akan menaiki jenjang kekuatan rohani.

e. Keturunan
Keturunan merupakan suatu faktor yang dapat memengaruhi manusia. Sifat yang diturunkan oleh orang tua yaitu ada dua macam yaitu: sifat jasmaniyah dan sifat ruhaniyah.

2. Faktor Ekstern
a. Pendidikan
Pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya. Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan karakter. Betapa pentingnya faktor pendidikan itu, karena naluri yang terdapat pada seseorang dapat dibangun dengan baik dan terarah. Oleh karena itu, pendidikan agama perlu dimanifestasikan melalui berbagai media baik pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal di lingkungan keluarga, dan pendidikan nonformal yang ada pada masyarakat.

Abu Ali Akhmad Al-Miskawaih menyebutkan bahwa Aristoteles pernah berkata di dalam Book on Ethics dan Book on Categories, Aritoteles mengungkapkan bahwa orang yang buruk bisa berubah menjadi baik melalui pendidikan.

Abdullah Nashih Ulwan berpendapat bahwa tugas pendidik adalah melaksanakan pendidikan ilmiah, karena ilmu mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan kepribadian dan emansipasi harkat manusia. Abdurrahman al- Nahlawi menjelaskan bahwa tugas pendidik ialah mengkaji dan mengajarkan ilmu ilahi, sesuai dengan Firman Allah swt. QS. Ali Imran :

Artinya: Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (Dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.(QS. Ali Imran :79)

b. Lingkungan
Lingkungan adalah sesuatu yang melingkungi suatu tubuh yang hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, keadaan tanah, udara dan pergaulan manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lain atau juga dengan alam sekitar.

Sekolah merupakan salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi karakter maka sekolah bisa menjadi salah satu tempat untuk bisa membentuk karakter siswa dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh guru.

d. Nilai-Nilai Karakter yang Harus Dimiliki Siswa
Proses belajar di sekolah bukan saja sekedar menguasai teori-teori yang diberikan guru tetapi juga bagaimana siswa bisa menjadi pribadi yang berkarakter melalui proses belajar. Untuk itu pendidikan di sekolah harus mampu mengembangkan karakter siswa dengan nilai-nilai karakter yang sesuai dengan norma dan agama.

Untuk itu di Indonesia telah dirumuskan sembilan karakter dasar yang menjadi tujuan pendidikan karakter. Kesembilan karakter tersebut yaitu:
1. Cinta kepada Allah dan semesta beserta isinya.
2. Tanggung jawab, disiplin dan mandiri.
3. Jujur.
4. Hormat dan santun.
5. Kasih sayang, peduli, dan kerja sama.
6. Percaya diri, kreatif, kerja keras dan pantang menyerah.
7. Keadilan dan kepemimpinan.
8. Baik dan rendah hati.
9. Toleransi, cinta damai dan persatuan.

Setiap karakter positif sesungguhnya akan merujuk pada sifat-sifat mulia Allah, yaitu al-Asma al-Husna. Sifat-sifat dan nama mulia Tuhan inilah sumber inspirasi setiap karakter positif yang dirumuskan oleh siapapun. Dari sekian banyak karakter yang bisa diteladani dari nama Allah itu, dapat dirangkum dalam 7 karakter dasar, yaitu:
1. Jujur.
2. Tanggung Jawab.
3. Disiplin.
4. Visioner.
5. Adil.
6. Peduli.
7. Kerja Sama.

Menurut Mardia Hayati ada 18 nilai-nilai karakter minimal yang harus dikembangkan di lingkungan sekolah, yaitu:
1. Religius: Karakter religius adalah sikap dan perilaku yang patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran, terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeuk agama lain.
2. Jujur: Karakter jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan.
3. Toleransi: Toleransi adalah sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.
4. Disiplin: Karakter disiplin yakni tindakan yang menunjukan perilaku tertib dan patuh kepada berbagai ketentuan dan peraturan.
5. Kerja Keras: Kerja keras adalah perilaku yang menunjukan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas, dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.
6. Kreatif: Kreatif adalah berpikir dan melakukan sesuatu yang menghasilkan cara atau hasil baru berdasarkan sesuatu yang telah dimiliki.
7. Mandiri: Mandiri merupakan sikap dan perilaku yang tidak mudah bergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.
8. Demokrasi: Demokrasi adalah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.
9. Rasa ingin tahu:Rasa ingin tahu merupakan sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang dipelajari, dilihat, dan didengar.
10. Semangat kebangsaan: Semangat kebangsaan merupakan cara berpikir, bertindak, dan berwawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.
11. Cinta tanah air: Cinta tanah air adalah cara berpikir, bersikap dan berbuat yang menunjukan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa.
12. Menghargai prestasi: karakter ini merupakan sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, mengakui, dan menghormati keberhasilan orang lain.
13. Bersahabat: Karakter ini adalah tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain.
14. Cinta damai: yaitu sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya.
15. Gemar membaca: ini adalah sebuah kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya.
16. Peduli Sosial: Peduli sosial adalah karakter yang berkaitan dengan sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.
17. Peduli lingkungan: Peduli lingkungan adalah sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan lingkungan alam di sekitarnya dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.
18. Tanggung jawab: Tanggung jawab adalah sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dilakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan (alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

e. Peranan Pendidikan Agama Islam dalam Pembentukan Karakter
Di dalam buku Pendidikan Karakter Abdul Majid danDian Andayani menyebutkan bahwa mantan Presiden RI pertama Soekarno pernah menegaskan bahwa: “agama adalah unsur mutlak dalam Nasional and Character Building”. Hal ini diperkuat dengan pendapat Sumahamijaya yang mengatakan bahwa karakter harus mempunyai landasan yang kokoh dan jelas. Tanpa landasan yang jelas, karakter kemandirian tidak punya arah, mengambang, keropos sehingga tidak berarti apa-apa. Oleh karenanya, fundamen atau landasan dari pendidikan karakter itu tidak lain haruslah agama.

Islam merupakan agama samawi yang diturunkan oleh Allah swt. Kepada hamba-hamba-Nya melalui para rasul. Sebagai agama, Islam memuat seperangkat nilai yang menjadi acuan pemeluknya dalam berperilaku. Aktualisasi nilai yang benar dalam bentuk perilaku akan berimplikasi pada kehidupan yang positif, pahala dan surga, sedangkan praktik nilai yang salah akan berimplikasi pada kehidupan nilai yang negatif, dosa dan neraka. Seluruh nilainya telah termaktub di dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah.

Idealnya, pendidikan agama dimaksudkan untuk meningkatkan potensi spiritual dan membentuk siswa agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia. Akhak mulia mencakup etika, budi pekerti, dan moral sebagai perwujudan dari pendidikan agama. Peningkatan potensi spiritual mencakup pengalaman, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan, serta pengalaman nilai-nilai tersebut dalam kehidupan individual ataupun kolektif kemasyarakatan. Peningkatan potensi spiritual tersebut pada akhirnya bertujuan pada optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki manusia yang aktualisasinya mencerminkan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Allah swt. 

Lebih spesifik pada Pendidikan Agama Islam di sekolah, merupakan upaya untuk meningkatkan pemahaman, penghayatan, dan pengalaman agama dalam diri siswa. Melalui Pendidikan Agama Islam, siswa diharapkan mampu membudayakan diri dengan perilaku yang luhur dan mengamalkan ilmu beserta keterampilan sesuai dengan nilai Islam.

Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran pokok yang menjadi satu komponen yang tidak dapat dipisahkan dengan mata pelajaran lain yang bertujuan untuk pengembangan moral dan kepribadian peserta didik. Semua mata pelajaran yang memiliki tujuan tersebut harus seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

3. Pengaruh Kepribadian Guru Pendidikan Agama Islam terhadap Karakter Siswa
Guru adalah aktor penting kemajuan peradaban bangsa ini. Dialah yang diharapkan mampu membentuk kepribadian, karakter, moralitas, dan kapabilitas intelektual generasi muda bangsa ini. inilah tugas besar yang diharapkan dari seorang guru. Berawal dari gurulah seorang guru murid mengenal ilmu, nilai, etika, moral, semangat, dan dunia luar yang masih asing bagi dirinya.

Pada hakekatnya di lembaga pendidikan peserta didik haus suri tauladan, karena sebagian besar hasil pembentukan jati diri adalah keteladanan yang diamatinya dari para pendidik. Di rumah, keteladanan akan diperoleh dari kedua orang tua dan dari orang-orang dewasa yang ada dalam keluarga tersebut. Sebagai peserta didik, murid- murid secara pasti meyakinkan semua yang di lihat dan didengarnnya dari cara-cara pendidiknya adalah suatu kebenaran. Oleh sebab itu para pendidik hendaknya menampilkan akhlak karimah sebagaimana diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Guru berpengaruh terhadap karakter siswa karena guru adalah salah satu sosok yang akan menjadi teladan bagi siswa dalam bertindak dan bersikap dilingkungannya. Guru merupakan faktor penting yang besar pengaruhnya terhadap keberhasilan pendidikan karakter di sekolah, bahkan sangat menentukan berhasiltidaknya peserta didik dalam mengembangkan pribadinya secara utuh. Dikatakan demikian, karena guru merupakan figur utama, serta contoh dan teladan bagi peserta didik. dalam pendidikan karakter guru harus mulai dari dirinya sendiri agar apa-apa yang dilakukannya dengan baik menjadi baik pula pengaruhnya terhadap peserta didik.

Oleh karena itulah guru Pendidikan Agama Islam menjadi salah satu contoh suri tauladan bagi siswa maka setiap yang ada pada diri guru akan menjadi contoh bagi siswa dalam bertingkah laku. Perspektif siswa yang sudah tertanam bahwa guru Pendidikan Agama Islam adalah guru yang mengerti dan paham dengan nilai-nilai agama tentu memiliki kepribadian yang sesuai pula dengan syari’at Islam dan menjadi penerus Nabi. Maka Kepribadian guru akan menjadi salah satu factor yang menjadi pembentuk karakter siswa. Dari kepribadian gurulah siswa menanamkan nilai-nilai karakter agama Islam dalam kehidupan sehari-harinya.

Postingan terkait:

1 Tanggapan untuk "Pengertian Karakter Siswa Menurut Ahli"