Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Tes Menurut Ahli

Pengukuran, Penilaian, dan Tes
1. Pengukuran
Pengukuran adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengidentifikasi besarkecilnya obyek atau gejala (Hadi, 1995). Pengukuran dapat dilakukan dengan dua cara; 
  1. Menggunakan alat-alat yang standar, 
  2. Menggunakan alat-alat yang tidak standar.
Suryabrata (1984) mendefinisikan secara sederhana bahwa pengukuran terdiriatas aturan-aturan untuk mengenakan bilangan-bilangan kepada sesuatu obyek untuk mempresentasikan kuantitas atribut pada obyek tersebut. Cronbach yang dikutip olehMehren (1973) mendefinisikan pengukuran sebagai suatu prosedur yang sistematis untuk mengamati perilaku seseorang dan menggambarkannya dengan bantuan skala numerik atau sistem pengkategorian. Hamalik (1989), menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas hasil pengukuran itu banyak bergantung pada jenis dan mutu alat ukur yang digunakan.

Menurut Umar (1991) pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi data secara kuantitatif. Hasil dari pengukuran dapat berupa informasi-informasi atau data yang dinyatakan dalam berntuk angka ataupun uraian yang sangat berguna dalam pengambilan keputusan, oleh karena itu mutu informasi haruslah akurat.

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pengukuran adalah suatu prosedur yang sistematis untuk memperoleh informasi data kuantitatifbaik data yang dinyatakan dalam bentuk angka maupun uraian yang akurat, relevan,dan dapat dipercaya terhadap atribut yang diukur dengan alat ukur yang baik dan prosedur pengukuran yang jelas dan benar.

2. Penilaian
Tahap berikutnya setelah pengukuran adalah penilaian yang bertujuan untukmengambil suatu keputusan baik atau buruk. Mehren dan Lehmann (1973)mengatakan bahwa penilaian adalah proses penggambaran untuk memperoleh dan memberikan informasi yang berguna sebagai alternatif pengambilan keputusan.

Hasil pengukuran merupakan landasan yang terpenting dalam penilaian pendidikan, dan hanya data dari hasil pengukuran saja yang dapat dipercaya dan dapat dijadikan landasan kuat bagi pengambilan keputusan (Umar, 1991). Grondlund (1985) berpendapat bahwa penilaian merupakan serangkaian proses mulai dari pengumpulan data, analisis data, interpretasi hasil, serta pengambilan keputusan berkenaan dengan pencapaian tujuan belajar.

3. Tes
Tes pada dasarnya merupakan suatu pengukuran yang obyektif dan standarterhadap sampel perilaku (Anastasi, 1976). Brown (1976) mengatakan bahwa tes adalah prosedur yang sitematik guna mengukur sampel perilaku seseorang. MenurutCronbach (1970) prosedur sistematik adalah untuk meneliti perilaku seseorang danmenggambarkannya dengan tujuan dari skala numerikal atau sistem kategori.

TIPOLOGI TES, FUNGSI, DAN BATASAN
Ada delapan tipe tes yang digunakan oleh dunia psikologi sampai saat ini. Lima tipe diantaranya adalah tes berbentuk tes proyektif dan sisanya bukan. Delapan tesberdasarkan kepada tiga dikotomi tipologi tes. Dengan tiga dikotomi ini dapat menghasilkan delapan tipe tes.

1. Subyektif vs Obyektif.
Dalam tes subyektif (voluntary) responden diminta untuk memahami bahwa apapun jawabanya adalah benar, dan tidak ada kriteria eksternal untuk membenarkan atau menyalahkan jawabanya. Dalam tes ini biasanya dicantumkan pernyataan “tes bukan menguji kecakapan anda” atau “tidak ada jawaban benar atau salah” atau “jawablah sesuai dengan yang benar-benar anda rasakan”. Tes ini adalah tes yang mengukur performansi tipikal. Tes tipikal bertujuan untuk mengungkap kecenderungan reaksi atau perilaku individu ketika berada dalam situasi-situasi tertentu. Tujuannya bukan untuk mengetahui apa yang mampu dilakukan seseorang tapi apa yang cenderung ia lakukan. Tes ini misalnya tes kepribadian dan tes motivasi. Sebaliknya dalam tes obyektif, akan selalu ada jawaban salah atau benar. Konsepketepatan atau kesalahan akan selalu diperhitungkan oleh responden. Konsep benarsalah ini diperhitungkan karena ada patokan atau kriteria eksternal yang membenarkan atau menyalahkan jawaban dan kriteria ini biasa disebut kunci jawaban. Tes ini adalah tes yang mengukur performansi maksimal. Tes ini bertujuan mengungkap apa yang mampu dilakukan oleh seseorang dan seberapa baik ia mampu melakukannya, tes ini misalnya tes belajar dan tes prestasi.

2. Langsung vs Tidak Langsung
Dalam tes langsung, responden paham dengan tes yang sedang dijalani. Jadi responden sangat paham akan apa yang ingin psikolog ungkapkan terhadap dirinya. Sebelum mengerjakan tes responden terlebih dulu membaca laporan mengenai tujuan, hasil tes yang pernah dilakukan, reliabilitas dan validitas tes, sehingga tidak ada yang akan mengejutkan dirinya ketika menghadapi tes. Tes tipe ini bisa diterapkan dalamtes prestasi, wawancara diagnostik, atau tes-tes minat dan inventori adjusmen.

Dalam tes tidak langsung, psikolog menginterpretasi jawaban-jawaban responden dalam dimensi dan kategori yang berbeda dengan apa yang dipikirkan responden. Jika seorang menceritakan cerita-cerita yang dia lihat di sebuah gambar dengan keyakinan bahwa kreativitasnya dalam bercerita dinilai kemudian psikolog menginterpretasikan ceritanya sebagai proyeksi mendalam, maka tes ini adalah tes tidak langsung. Jika seseorang mengekspresikan rasa suka dan tidak sukanya terhadap serangkaian gambar, dan hasilnya diinterpretasikan sebagai rasa pesimisme oral, maka tes ini adalah tes tidak langsung. Umumnya, jika jawaban-jawaban responen diambil sebagai simptom-simptom, daripada sebagai informasi literal maka tes itu masuk katagori tes tidak langsung.

Karakter tes tidak langsung adalah penyamaran. Artinya tes ini menyembunyikan tujuan sebenarnya, dan membuat sebuah alasan-alasan tertentu yang masuk akal sehingga responden mau mengikuti tes.

3. Terstruktur vs Tidak Terstruktur.
Dikotomi ini banyak terjadi dalam prosedur tes kepribadian dan pengukuran sikap. Karakter tes proyektif adalah jawabannya yang terbuka (open-ended), bebas, tidak terstruktur dan membebaskan responden untuk memproyeksikan dirinya terhadap sesuatu atau materi tes. Jawaban bebas memiliki ciri yaitu tidak menawarkanalternatif jawaban dan tidak membatasi jumlah jawaban.

Tes yang terstruktur jawaban-jawaban yang akan diberikan oleh responden telahdisediakan pilihan-pilihannya. Tes tipe ini lebih banyak dilakukan untuk tes-tes obyektif meskipun banyak juga yang diterapkan dalam tes-tes subyektif seperti tes kepribadian atau tes-tes proyektif.

4. Delapan Tipe Tes
  1. Subyektif, tidak langsung, tidak terstruktur. Tes ini termasuk tes yang menggunakan teknik-teknik proyektif klasik, misalnya asosiasi bebas, Rorschach,Thematic Apperception Test, gambar, dan pertanyaan-pertanyaan proyektif seperti “Apa yang paling kamu kagumi dari orang?” Atau “Apa yang kamu anggap paling memalukan?”
  2. Subyektif, tidak langsung, terstruktur. Dalam kategori ini bisa dimasukkan pilihan ganda Rorschach dan pilihan ganda tes asosiasi. Selain itu tes-tes lain yang masuk kategori ini adalah: kuesioner tidak langsung (misalnya pengukuran skala F terhadap kecenderungan kepribadian otoriterian), Differential Semantic Osgood digunakan untuk sikap tidak langsung terhadap orang tua, dan figur-figur lain. Juga Pendekatan Q-Short untuk identifikasi ketidak sadaran. Tes humor dan inventori kejengkelan yang digunakan untuk tujuan diagnostik tidak langsung juga termasuk kategori ini. 
  3. Subyektif, langsung, tidak terstruktur. Masuk dalam kategori ini adalah tes-tes melengkapi-kalimat, kuesioner essay, wawancara open-ended.
  4. Subyektif, langsung, terstruktur. Kategori ini termasuk analisis kuantitatifuntuk mengukur adjusmen, kepribadian, minat, dan bakat. Tes kategori ini adalahWoodworth inventori, tes sikap Thurstone dan Likert, inventori minat Strong dan Kuder, Minnessota Multiphasic Personality Inventori. Tes-tes ini disekor dengan analisis empiris atau statistik atau jawaban dipilih dengan format pilihan tertentu.
  5. Obyektif, tidak langsung, tidak terstruktur. Tes ini adalah tes proyektif yang menggunakan tampilan tes obyektif, yang berusaha mengarahkan responden kepadakriteria eksternal tapi dipersilahkan mengisi jawaban dengan pola tidak terstruktur.  Misalnya dalam tes “Verbal Summator”. Dalam tes ini responden diinstruksikan untuk mendengarkan sebuah rekaman dari sebuah percakapan. Responden diberitahu  bahwa percakapan ini tidak tersusun dengan rapi, tapi jika didengarkan dengan cermat responden bisa menangkap ide dalam percakapan itu.
  6. Obyektif, tidak langsung, terstruktur. Kategori ini adalah kategori lima yang distrukturkan. Misalnya penilaian terhadap sebuah gambar bisa menggunakan jawaban terstruktur atau tidak terstruktur. 
  7. Obyektif, langsung, tidak terstruktur. 
  8. Obyektif, langsung, dan terstruktur. Dua kategori ini adalah tes yangdigunakan untuk mengukur kemampuan maksimal, yaitu tes kecakapan atau tesprestasi. Tes yang terstruktur diantaranya adalah tes tipe pilihan ganda, tipe pasangan, dan benar atau salah. Sedangkan tes dalam format tidak terstruktur adalah tes essay.
Jenis Tes
  • Tes Intelijensi: mengukur kecakapan umum individu misalnya verbalcomprehension, pengaturan persepsi, atau penalaran. 
  • Tes ini membantu menentukanpotensi akademik atau prestasi dalam bidang tertentu.
  • Tes Bakat: mengukur kemampuan individu dalam kemampuan atau ketrampilan khusus. 
  • Tes ini termasuk dalam tes kecakapan (ability). 
  • Tes Prestasi: mengukur tingkat pembelajaran, keberhasilan, atau kemampuan menyelesaikan suatu tugas atau pekerjaan individu.
  • Tes Kreativitas: menilai kemampuan berfikir individu yang tidak biasa atau kemurnian berfikir atau kemampuannya memberi solusi yang tidak biasa atau tidak terduga, khususnya masalah-masalah yang membingungkan.
  • Tes Kepribadian: mengukur perilaku, ciri khas, atau sifat yang menentukan individualitas seseorang; formatnya bisa berupa checklist, inventori, dan proyektif.
  • Inventori minat: mengukur kecenderungan seseorang untuk memilih aktivitas sehingga bisa memengaruhi dia dalam memilih pekerjaan.
  • Prosedur Perilaku: penggambaran dan penghitungan secara obyektif frekuensi perilaku, yang ditujukan untuk mengenali sebab sebuah perilaku muncul dan kemungkinan perilaku yang akan muncul selanjutnya.
  • Tes Neuropsikologi: mengukur kinerja kognitif, sensori, persepsi, dan motorik seseorang untuk menentukan sejauh mana, dimana, dan dampak kerusakan otak.
Fungsi Tes
Sejauh ini fungsi tes secara umum adalah untuk membuat keputusan mengenai seseorang. Misalnya, institusi pendidikan sering menggunakan tes untuk menentukan tingkat siswa, atau universitas menggunakan tes menentukan apakah seseorang diterima sebagai mahasiswa atau tidak. Lembaga-lembaga itu merujuk kepada skor tes. Lembaga pemerintah juga sangat banyak menggunakan tes terutama untuk melakukan penyeleksian atau penempatan kerja. 

Secara umum tes digunakan sebagai pertimbangan dalam membuat keputusan. Namun secara khusus tes berfungsi sebagai:
  • Klasifikasi
  • Diagnosis dan perencanaan perlakuan
  • Pengenalan-diri (Self-Knowledge)
  • Evaluasi program
  • Penelitian
Klasifikasi meliputi berbagai cara atau prosedur yang bertujuan mengelompokkan atau membedakan seseorang dengan orang lainnya. Tentu saja klasifikasi ini memiliki tujuan, yang dikaitkan dengan perlakuan selanjutnya.

Misalnya pengklasifikasian Indeks Prestasi mahasiswa, klasifikasi IP tertinggi digunakan untuk menentukan mahasiswa yang berhak menerima beasiswa, sedangkan IP terendah dimotivasi lagi untuk meningkatkan kemampuannya. Dalam dunia terapi, psikolog sering melakukan diagnosis terhadap pasiennya untuk mencari informasi sebagai dasar perlakuan yang akan diambil dalam terapi. Psikolog ingin mengetahui seberapa tinggi tingkat kecemasan, motivasi, atau hargadiri pasien sehingga psikolog kemudian bisa dengan tepat menggunakan proseduratau teknik terapi yang bisa membawa pasiennya ke kondisi yang lebih baik dari sebelumnya. Ini adalah fungsi diagnosi dan perencanaan perlakuan.

Pengenalan-diri bisa dilakukan dengan cara-cara standar dan tidak standar. cara-cara tidak standar seseorang dalam mengenali sendiri selalu dilakukan dilakukan setiap hari karena sebagai manusia mereka akan selalu menilai dirinya dalam hal perilaku, baik perilaku terhadap diri sendiri maupun dengan orang lain. Sementara cara standar adalah dengan menggunakan tes. Tes IQ adalah tes yang paling banyak digunakan atau diinginkan oleh seseorang untuk mengetahui seberapa tinggi tingkat kecerdasan dirinya, begitu pula dengan tes-tes lainnya seperti tes kecerdasan emosi, kejujuran, dan minat.

Dalam perusahaan atau sebuah lembaga sering digunakan tes-tes untuk melakukan analisis jabatan atau evaluasi program. Seringkali tes digunakan untuk menganalisis kerja seseorang atau beberapa orang dalam sebuah kelompok yang menjalankan sebuah program kerja. Untuk tujuan ini tes yang sedang banyak diperbincangkan saat ini adalah tes kecerdasan emosi (Emotional Quotient). Sebagai sebuah karya, tes adalah karya dari orang-orang yang bergelut dalamduania keilmuan atau ilmuwan. Maka sangat wajar jika tes digunakan oleh merekasebagai alat untuk meneliti untuk menambah wawasan kelilmuan mereka.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pengertian Pengukuran, Penilaian, dan Tes Menurut Ahli"

Posting Komentar