Pengertian Pendidikan Luar Sekolah Menurut Ahli

Kelompok Belajar Olahraga (KBO) sebagai salah satu Program PLS
a. Pengertian Pendidikan Luar Sekolah
Adikusumo (1986:57) dalam bukunya Pendidikan Kemasyarakatan mengemukakan pengertian pendidikan luar sekolah sebagai berikut pendidikan luar sekolah adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang teratur dan terarah di luar sekolah, dimana seseorang memperoleh informasi-informasi pengetahuan, latihan ataupun bimbingan sesuai dengan usia dan kebutuhan hidupnya dengan tujuan mengembangkan tingkat kerterampilan, sikap-sikap peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga bahkan masyarakat dan negaranya. Sudjana, mengemukakan pengertian pendidikan luar sekolah sebagai berikut: "Pendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan belajar membelajarkan, diselenggara-kan luar jalur pendidikan sekolah dengan tujuan untuk membantu peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi diri berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, dan aspirasi yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, lembaga, bangsa, dan negara.

Pendidikan luar sekolah merupakan salah satu bentuk pendidikan yang diterapkan dalam sistem pendidikan nasional di Indonesia. Bentuk pendidikan ini merupakan suatu bentuk pendidikan yang lebih difokuskan kepada pemberdayaan serta pembinaan bagi masyarakat, terutama masyarakat yang ada di desa maupun kelurahan.

Sedangkan menurut Zahran (2004:12) Pendidikan luar sekolah merupakan segala bentuk kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan mulai dari keluarga sampai masyarakat di luar sekolah formal, pendidikan luar sekolah mengandung konsep pendidikan sepanjang hayat.

Dari kutipan tersebut jelaslah bahwa pada dasarnya Pendidikan Luar Sekolah ada sejak manusia dilahirkan, dimana memberikan kesempatan di antara manusia untuk saling memberikan informasi, pengetahuan, keterampilan guna peningkatan taraf hidupnya.

Pendidikan luar sekolah dapat dikatakan merupakan sistem baru dalam dunia pendidikan di Indonesia yang bentuk dan pelaksanaannya berbeda dengan sistem pendidikan sekolah yang sudah ada. Dalam pendidikan luar sekolah terdapat hal-hal yang sama pentingnya bila dibandingkan dengan pendidikan di sekolah, seperti bentuk pendidikan, tujuan, sasaran, pelaksanaan dan sebagainya. Dalam bukunya Konsep Dasar Pendidikan Luar Sekolah Prof. Drs Soelaiman Joesoef mengungkapkan batasan tentang definisi Pendidikan Luar Sekolah yang dikemukakan oleh Phillips H. Combs, yaitu setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan di luar sistem formal, baik sendiri maupun merupakan bagian dari suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam rangka mencapai tujuan-tujuan belajar.

Dari batasan tersebut dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa Pendidikan Luar Sekolah merupakan suatu sistem pendidikan yang diselenggarakan secara terorganisir di luar sistem formal yang telah ada, yang diselenggarakan untuk mencapai tujuan tertentu dan dimaksudkan bagi sasaran tertentu.

b. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM)
Terdapat banyak pendapat yang mengungkapkan tentang apa sesungguhnya Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau yang lebih sering dikenal dengan sebutan PKBM, salah satunya adalah dalam Langgulu (2004:11) yang menyatakan bahwa dalam Buku Modul Pendirian dan Pengelolaan PKBM dijelaskan yang dimaksud dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) adalah merupakan pusat pelaksanaan pembelajaran terhadap masyarakat yang berlokasi di desa atau kelurahan. Pernyataan ini mengandung arti bahwa PKBM adalah merupakan tempat untuk melaksanakan berbagai kegiatan pembelajaran masyarakat terutama yang dilaksanakan oleh DIKMAS maupun yang dilaksanakan oleh instansi-instansi sosial lainnya serta yang dilaksanakan oleh organisasi sosial kemasyarakatan lainnya.

Selain itu Langgulu (2004:11) menyatakan pula bahwa pengertian Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat menurut Depdikbud adalah tempat pembelajaran masyarakat terhadap berbagai macam pengetahuan dan keterampilan dengan memanfaatkan sarana, prasarana dan potensi yang ada di sekitar lingkungan desa atau kelurahan agar masyarakat memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidup.

Pusat kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang merupakan tindak lanjutdari gagasan Community Learning Center telah dikenal di Indonesia sejak tahun enam puluhan. Secara kelembagaan, perintisannya di Indonesia dengan nama PKBM baru dimulai pada tahun 1998 sejalan dengan upaya untuk memperluas kesempatan masyarakat memperoleh layanan pendidikan (Sudjana, 2003).

Definisi lain menyebutkan PKBM adalah tempat pembelajaran dalam bentuk berbagai macam keterampilan dengan memanfaatkan sarana, prasarana, dan segala potensi yang ada di sekitar lingkungan kehidupan masyarakat, agar masyarakat memiliki keterampilan dan pengetahuan yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan dan memperbaiki taraf hidupnya (BPKB Jatim, 2000).

Di samping itu, PKBM adalah wujud dari pendidikan yang berbasis masyarakat yaitu pendidikan yang pada dasarnya dirancang oleh masyarakat untuk membelajarkan masyarakat sehingga mereka berdaya, dalam arti memiliki kekuatan untuk membangun dirinya sendiri yang sudah barang tentu melalui interaksi dengan lingkungannya (Fasli & Dedi, 2001).

PKBM merupakan tempat berbagai kegiatan pembelajaran yang dibutuhkan oleh masyarakat sesuai dengan minat dan kebutuhannya dengan pendekatan pendidikan berbasis masyarakat. PKBM merupakan sebuah lembagapendidikan bentukan masyarakat, yang dikelola dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri dengan tujuan untuk memberikan kebutuhan pelayanan pendidikan di masyarakat. PKBM sebagai sumber informasi berisi berbagai jenis program pembelajaran yang berguna terutama dalam peningkatan kemampuan dalam bidang keterampilan fungsional yang berorientasi pada pemberdayaan potensi masyarakat setempat melalui pendekatan pendidikan berbasis masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap masyarakat dalam bidang ekonomi, sosial dan budaya.

Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat bertujuan untuk memberdayakan potensi dan fasilitas pendidikan yang ada di Desa atau kelurahan sebagai upaya membelajarkan masyarakat yang diarahkan untuk mendukung pengentasan kemiskinan (miskin pendidikan dan miskin ekonomi). Adapun prinsip dalam pengembangan PKBM ini adalah dalam rangka mewujudkan demokrasi di bidang pendidikan. Hasil yang diharapkan dengan berdirinya PKBM adalah untuk dapat menunjang bahkan mempercepat terbentuknya manusia yang terampil dan mandiri dengan ditandai makin banyaknya warga masyarakat yang berperan aktif.

Pusat kegiatan belajar masyarakat dilaksanakan dengan cara menggerakkan seluruh potensi yang tersedia di sekitar desa atau kelurahan baik potensi sumber daya alam, sumber daya manusia maupun sarana dan prasarana yang ada di masyarakat.

Keberadaan PKBM memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai koordinasi program-program pembelajaran di masyarakat. Tersedianya pengelola/penyelenggara, tenaga pengajar/tutor yang berkualitas, merupakan daya pikat tersendiri bagi masyarakat untuk datang ke PKBM. Tujuan PKBM adalah memberdayakan masyarakat untuk kemandirian, melalui program-program yang dilaksanakan di PKBM, agar dapat membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan sikap.

Dalam hal pengembangan organisasi PKBM langkah penting untuk mengelola perubahan yang efektif dapat dilakukan dengan menerapkan lima tahapan pengelolaan perubahan. Model ini menekankan tanggung jawab manajemen untuk melakukan hal-hal penting yang meningkatkan kemungkinan efektivitas individu, kelompok dan organisasi.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembinaan Olahraga pada Kelompok Belajar Olahraga
Dalam sebuah sistem selalu saja terdapat beberapa faktor yang mampu menunjang jalannya sistem tersebut sehingga mampu mencapai suatu tujuan yang diharapkan. Faktor-faktor tersebut dapat berupa faktor pendorong maupun faktor penarik serta faktor yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal.

Demikian halnya dengan pembinaan olahraga pada sebuah Kelompok Belajar Olahraga (KBO), tentu saja memiliki berbagai faktor yang mempengaruhi keberlangsungan pembinaan olahraga di dalamnya. 

Faktor-faktor tersebut antara lain berupa 
  1. Faktor pelatih, 
  2. Faktor sarana dan prasarana, 
  3. Faktor dana/pendanaan serta faktor yang tak kalah pentingnya adalah 
  4. Faktor partisipasi masyarakat itu sendiri.
Dalam sebuah pembinaan olahraga, peran pelatih atau pembina tentu memiliki posisi yang sangat penting. Pelatih atau pembina bertugas sebagai fasilitator dan mediator dalam pembentukan dan peningkatan kemampuan olahraga peserta latihan. Selain itu, pelatih juga berperan dalam membentuk
mental dan karakter para peserta. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa pelatih atau pembimbing memiliki peran yang cukup strategis dalam sebuah program pembinaan olahraga seperti dalam Kelompok Belajar Olahraga (KBO). Selain faktor pelatih, terdapat juga beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi pembinaan olahraga pada sebuah Kegiatan Belajar Olahraga. Haltersebut adalah sarana dan prasarana penunjang dalam pembinaan olahraga itu sendiri.

Pembangunan olahraga di Indonesia sendiri, tidak dapat dipungkiri bahwa negara kita masih mengalami tantangan dan permasalahan terutama dalam bidang alat, sarana dan prasarana olahraga. Alat, sarana dan prasarana merupakan faktor yang tidak dapat ditinggalkan saja dalam pembinaan olahraga. Pelatih yang handal atau atlet yang hebat tidak akan mencapai puncak prestasi maksimal, jika alat sarana dan prasarana kurang memadai dan tidak diperhatikan bahkan masih  tradisional atau ketinggalan jaman.

Untuk meningkatkan keberadaan serta kualitas sarana dan prasarana, dan tentu saja bagi kesejahteraan pelatih atau pembina, tentu saja faktor yang memiliki peran dalam hal tersebut adalah faktor pendanaan. Dana yang cukup tentu saja akan mampu memberikan pengaruh yang positif terhadap pembinaan olahraga dalam sebuah Kelompok Belajar Olahraga.

Pembinaan olahraga dalam sebuah kelompok olahraga pada sebuah lingkup masyarakat, haruslah memiliki prinsip demokratis. Prinsip demokratis yaitu pembinaan olahraga dari masyarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Sehingganya faktor pendukung yang dapat mempengaruhi pembinaan olahraga dalam sebuah Kelompok Belajar Olahraga selain dari faktor pelatih, sarana dan prasarana serta faktor pendanaan, adalah adanya partisipasi dari masyarakatnya sendiri. Tanpa partisipasi tersebut tentu saja keberadaan pembinaan olahraga akan terasa sia-sia.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pengertian Pendidikan Luar Sekolah Menurut Ahli"

Posting Komentar