Pengertian Komunikasi Massa Menurut Ahli

Komunikasi Massa 
Komunikasi massa merupakan sejenis kekuatan sosial yang dapat menggerakkan proses sosial ke arah suatu tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Definisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner dalam Rakhmat, (2009 : 188) adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang. Definisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi lain, yaitu Gerbner. Menurut Gerbner dalam Rakhmat, (2009 : 188) komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri. Sedangkan menurut Rakhmat (Rakhmat, 2009 : 189) komunikasi massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim melalui media cetak atau elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak dan sesaat.

Komunikasi massa memiliki beberapa karakteristik yang dikemukakan oleh para ahli seperti menurut Wright dalam Ardianto, (2007: 4) komunikasi dapat dibedakan dari corak-corak yang lama karena memiliki karakteristik utama yaitu:
  1. Diarahkan kepada khalayak yang relatif besar, heterogen dan anonim
  2. Pesan disampaikan secara terbuka
  3. Pesan diterima secara serentak pada waktu yang sama dan bersifat sekilas (khusus untuk media elektronik)
  4. Komunikator cenderung berada atau bergerak dalam organisasi yang kompleks yang melibatkan biaya besar.
Fungsi komunikasi massa dikemukakan oleh Effendy dalam Ardianto, (2007 : 18) secara umum yaitu:

1. Fungsi Informasi
Fungsi memberikan informasi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar informasi bagi pembaca, pendengar atau pemirsa. Berbagai informasi dibutuhkan oleh khalayak media massa yang bersangkutan sesuai dengan kepentingannya.

2. Fungsi Pendidikan
Media massa banyak menyajikan hal-hal yang sifatnya mendidik seperti melalui pengajaran nilai, etika, serta aturan-aturan yang berlaku kepada pemirsa, pendengar atau pembaca.

3. Fungsi Memengaruhi
Media massa dapat memengaruhi khalayaknya baik yang bersifat pengetahuan (cognitive), perasaan (affective), maupun tingkah laku (conative).

Pendapat lain dikemukakan oleh Dominick dalam Ardianto, (2007:14 - 17) yaitu fungsi komunikasi terdiri dari :

1. Surveillance (Pengawasan)
Fungsi ini menunjuk pada pengumpulan dan penyebaran informasi mengenai kejadian-kejadian dalam lingkungan maupun yang dapat membantu khalayak dalam kehidupan sehari-hari.

2. Interpretation (Penasiran)
Fungsi ini mengajak para pembaca atau pemirsa untuk memperluas wawasan dan membahasnya lebih lanjut dalam komunikasi antarpesona atau komunikasi kelompok.

3. Linkage (Pertalian)
Fungsi ini bertujuan dimana media massa dapat menyatukan anggota masyarakat yang beragam, sehingga membentuk linkage (pertalian) berdasarkan kepentingan dan minat yang sama tentang sesuatu.

4. Transmission of values (Penyebaran nilai-nilai)
Fungsi ini artinya bahwa media massa yang mewakili gambaran masyarakat itu ditonton, didengar, dan dibaca. Media massa memperlihatkan kepada kita bagaimana mereka bertindak dan apa yang mereka harapkan.

5. Entertainment (Hiburan)
Fungsi ini bertujuan untuk mengurangi ketegangan pikiran halayak, karena dengan membaca berita-berita ringan atau melihat tayangan hiburan di televisi dapat membuat pikiran khalayak segar kembali.

Menurut Steven M. Chaffee dalam Ardianto, (2007 : 50-58), efek media massa dilihat dari dua pendekatan yaitu efek dari media massa yang berkaitan dengan pesan ataupun media itu sendiri dan jenis perubahan yang terjadi pada khalayak.

1. Efek kehadiran Media Massa
Ada lima jenis efek kehadiran media massa sebagai benda fisik, yaitu efek ekonomis, efek sosial, efek pada penjadwalan kegiatan, efek penyaluran / penghilangan perasaan tertentu, dan efek pada perasaan orang tehadap media.

2. Efek Pesan
a. Efek Kognitif
Efek kognitif adalah akibat yang timbul pada diri komunikan yang sifatnya infomatif bagi dirinya. Dalam efek kognitif ini akan dibahas tentang bagaimana media massa dapat membantu khalayak dalam mempelajari informasi yang bermanfaat dan mengembangkan keterampilan kognitifnya.

b. Efek Afektif
Efek Afektif kadarnya lebih tinggi daripada efek kognitif. Tujuan dari komunikasi massa bukan sekedar memberitahu khalayak tentang sesuatu, tetapi lebih dari itu, khalayak diharapkan dapat turut merasakan perasaan iba, terharu, sedih, gembira, marah dan sebagainya.

c. Efek Behavioral
Efek behavioral merupakan akibat yang timbul pada diri khalayak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan. Menurut teori Bandura, orang cenderung meniru perilaku yang diamatinya. Stimulus menjadi teladan untuk perilakunya.

A. Buku sebagai Bagian dari Media Massa
Media massa yaitu saluran sebagai alat atau sarana yang dipergunakan dalam proses komunkasi massa. Media massa secara pasti memengaruhi pemikiran dan tindakan khalayak. Budaya, sosial, politik dipengaruhi oleh media (Agee dalam Ardianto, 2007 : 58). Media massa dikatakan sebagai kebudayaan yang bercerita. Media membentuk opini publik untuk membawanya pada perubahan yang signifikan.

Media massa pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu media massa cetak dan media massa elektronik. Yang termasuk media massa cetak yaitu buku, surat kabar, dan majalah. Sedangkan yang termasuk media massa elektronik yaitu radio, televisi, film, dan media on-line (internet).

Di Indonesia, perkembangan media massa telah menunjukkan kecenderungan yang pesat, baik media cetak maupun media elektronik baik lokal maupun asing. Dengan demikian, kebutuhan kita akan hiburan, informasi dan pendidikan dapat terpenuhi dengan hadirnya media massa.

Sebagai sebuah bagian dari media massa cetak, buku merupakan sifat yang paling tidak “massa” dari media massa kita dalam menjangkau khalayaknya dan besarnya industri itu sendiri, dan fakta ini membentuk hubungan antara media dan khalayak. Hubungan lebih langsung antara penerbit dan pembaca buku menjadikan buku memiliki fundamental berbeda dari media massa lainnya. 

Buku tidak tergantung dari media massa lain yang menarik khalayaknya sebesar mungkin, dan lebih mampu dan lebih mungkin untuk menetaskan yang baru, menantang, atau gagasan yang tidak populer. Buku juga sebagai cerminan budaya. Sebagai bagian dari komunikasi massa, kebudayaan tentu melekat pada sebuah buku. Karena komunikasi adalah dasar kebudayaan kita (Carey dalam Baran, 2011 : 10).

Buku merupakan sumber informasi dan hiburan. Buku dapat dikatakan sebagai pengembangan pribadi dan perubahan sosial. Buku memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan media massa yang lainnya. Buku dapat dinikmati kapan saja dan dimana saja karena buku tidak terikat oleh tempat dan waktu. Buku juga dapat mengembangkan topik serta pemikiran-pemikiran baru sehingga ilmu bisa berkembang secara akumulatif.

Membaca buku adalah aktivitas pribadi yang jauh lebih individual, daripada mengonsumsi iklan (televisi, radio, surat kabar, dan majalah) atau musik populer dan film. Dengan demikian, buku cenderung mendorong refleksi pribadi ke tingkat lebih tinggi daripada media-media lainnya. 

Jenis buku pertama yang dirancang untuk menarik perhatian massa muncul di Abad Pertengahan. Buku itu dikenal dengan nama ‘novel fiksi’ (dari bahasa latin fingere yang artinya membentuk, menyatukan).

Novel adalah sebuah teks naratif. Novel menceritakan kisah yang mempresentasikan suatu situasi yang dianggap mencerminkan kehidupan nyata atau untuk merangsang imajinasi. Di dalam teori semiotika mutakhir, aspek penarasian seperti ini dinyatakan sebagai intertekstualitas. Interteks adalah teks narasi lain yang dimainkan oleh sebuah novel melalui pengutipan atau implikasi. Bisa dikatakan ini adalah teks yang terletak di luar teks utama. Sebuah novel juga bisa memiliki subteks, yaitu kisah yang secara implisit terkandung di dalamnya yang mendorong sebuah narasi di permukaan ( Danesi, 2010 : 75).

Novel bisa memberikan dampak begitu besar kepada pembacanya. Makna umum novel sering dipakai sebagai penafsir untuk menilai peristiwa atau tindakan yang ada di dalam kehidupan nyata. 

Komunikasi Verbal dan Non-Verbal
Seperti dikatakan Watzlawiek, Beavin dan Jackson dalam Littlejohn, bahwa setiap komunikasi mempunyai aspek isi dan aspek hubungan. Aspek isi pesan berisikan apa yang dikatakan (verbal), sedang aspek hubungan berisikan bagaimana pesan diucapkan atau dikatakan melalui komunikasi non verbal (dalam Cahyana, 1996 : 202). Memahami isi pesan adalah tujuan dari semua proses komunikasi. Melalui komunikasi dengan orang lain, kita mendapatkan pengertian yang lebih baik akan pesan-pesan yang kita dan orang lain kirim dan terima ( West, 2008 : 93).

1. Komunikasi Verbal
Komunikasi verbal adalah komunikasi dengan menggunakan simbol-simbol verbal. Simbol verbal bahasa merupakan pencapaian manusia yang paling impresif. Setiap bahasa memiliki aturan-aturan yaitu:
  1. Fonologi: cara bagaimana suara dikombinasikan untuk membentuk kata.
  2. Sintaksis: cara bagaimana kata dikombinasikan hingga membentuk kalimat.
  3. Semantik: arti kata.
  4. Pragmatis: cara bagaimana bahasa digunakan.
Menurut teori belajar, anak-anak memperoleh pengetahuan bahasa melalui tiga proses yaitu asosiasi, imitasi, dan peneguhan. Bahasa menampilkan elemen-elemen di dunia secara simbolis, ada yang konkret dan ada yang abstrak. Ada keterkaitan yang erat antara bahasa dan realitas. Bahasa menyebabkan kita memandang realitas sosial dengan cara tertentu (Whorf dalam Mutmainah, 1996:57).

Secara singkat, teori Whorf mengatakan bahwa pandangan kita tentang dunia dibentuk oleh bahasa, karena bahasa berbeda, pandangan kita tentang dunia pun berbeda. Whorf juga menjelaskan kategori gramatikal dari suatu bahasa menunjukkan kategori kognitif dari pemakai bahasa tersebut. Artinya kita memberikan makna pada apa yang kita lihat, yang kita dengar atau yang kita rasa sesuai dengan kategori-kategori yang ada dalam bahasa kita.

Dalam hubungannya dengan berpikir, konsep suatu bahasa cenderung menghambat atau mempercepat proses pemikiran tertentu. Meskipun kita dapat berpikir tanpa bahasa, bahasa terbukti mempermudah kemampuan belajar dan mengingat, memecahkan persoalan dan menarik kesimpulan. Dengan bahasa kita mengkomunikasikan pemikiran kita kepada oang lain dan menerima pikiran orang lain. Singkatnya, kita tidak selalu berpikir dengan kata-kata tetapi sedikit sekali kita dapat berpikir tanpa kata-kata.

Kata-kata tidaklah bermakna. Manusialah yang memberikan makna. Dalam psikologi, makna tidak terletak pada kata-kata tetapi pada pikiran orang dan persepsinya. Makna terbentuk karena pengalaman individu.

Beberapa ahli menemukan bahwa kata-kata yang dipergunakan oleh individu mengalami perluasan makna yang negatif atau positif tanpa disadari. Hal ini terjadi karena kata-kata itu telah memperoleh makna tertentu pada diri pelaku komunikasi akibat pengalaman hidupnya. Jadi, karena pengalaman hidup yang berbeda, orang mempunyai makna masing-masing untuk kata-kata tertentu.

Kita dapat berkomunikasi dengan orang lain karena ada makna yang dimiliki bersama. Makna yang sama hanya terbentuk bila kita memiliki pengalaman yang sama. Komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan tepat, dapat dimengerti dan dapat diterima oleh komunikan. Seperti dikatakan Jalaluddin Rakhmat bahwa keberhasilan komunikasi sangat ditentukan kekuatan pesan (dalam Suranto, 2011 : 122). Pesan yang disampaikan atau diorganisasikan secara baik, lebih berpeluang untuk keberhasilan perubahan, pengertian karena ada kesamaan makna yang dipahami oleh komunikator dan komunikan dalam sebuah pesan dan juga sikap dari komunikaan itu sendiri. Sikap atau perilaku seseorang juga ditentukan oleh kepercayaan, yang pda gilirannya menentukan sikap lalu memengaruhi niat (Hamidi, 2007 : 89).

2. Komunikasi Non-Verbal
Komunikasi nonverbal adalah semua bentuk komunikasi yang tidak menggunakan pesan berupa kata-kata. Para ahli dibidang komunikasi nonverbal biasanya menggunakan definisi “tidak menggunakan kata” dengan ketat, dan tidak menyamakan komunikasi nonverbal dengan komunikasi nonlisan. Contoh komunikasi nonverbal adalah menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata, penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut dan sebagainya, simbol-simbol serta cara berbicara seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi dan gaya berbicara.

Berikut adalah bagian-bagian dari pesan nonverbal, yaitu:

1. Paralanguage
Apa yang kita katakan menggunakan kata, frase atau kalimat penting dalam proses komunikasi. Namun seringkali cara kita menggunakan bahasa jauh lebih penting sebagai sumber informasi daripada kata-kata itu sendiri. Inilah yang dikenal dengan paralanguage (paralinguistik) yaitu cara kita menggunakan bahasa. Paralanguage dapat terbagi dua yaitu bentuk vokalik dan bentuk tertulis.

2. Penampilan (appearance)
Dalam komunikasi manusia, penampilan memegang peranan penting. Kesan pertama tentang orang lain umumnya dibentuk dari penmpilan orang tersebut. Kesan awal ini menentukan proses komunikasi selanjutnya. Sejumlah faktor yang menyumbang penampilan adalah wajah, mata, rambut, bentuk fisik tubuh, pakaian, perlengkapan dan artifak (objek di luar individu yang dapat menjadi sumber informasi lain tentang individu tersebut, seperti mobil dan rumah).

3. Gestura (kinesik)
Gestura adalah gerakan anggota tubuh. Gestura dapat disengaja (purpose-ful) dikirimkan dengan tujuan tertentu dan tidak disengaja (incidental atau unintended). Sejumlah gestura dapat merupakan pelengkap bagi sinyal-sinyal verbal (misalnya: anda berkata “ya” sambil mengangguk-angguk).

4. Sentuhan (haptik)
Alat penerima sentuhan ialah kulit. Kulit mampu menerima dan membedakan berbagai emosi yang disampaikan orang melalui sentuhan. Sentuhan merupakan ungkapan seperti perhatian, rasa sayang, rasa takut, marah, kebahagiaan dan keakraban. Sentuhan dapat menunjukkan tingkat keakraban hubungan seseorang dengan orang lain, budaya, dan suku bangsa seseorang.

5. Ruang dan Jarak (proksemik)
Pesan proksemik disampaikan melalui pengaturan jarak dan ruang. Umumnya dengan mengatur jarak kita mengungkapkan tingkat keakraban kita dengan orang lain. Edward T. Hall dalam Mutmainah, (1996 : 62) menyebutkan ada empat macam jarak dalam interaksi antarmanusia, yaitu jarak akrab / intim, jarak personal, jarak sosial, dan jarak publik.

6. Waktu (kronemik)
Penggunan waktu juga penting dalam komunikasi manusia. Konsep waktu berbeda antara budaya yang satu dengan budaya yang lainnya.

Mark L. Knapp dalam Mutmainah, (1996 : 59) menyebutkan lima fungsi komunikasi nonverbal, yaitu:
  1. Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal.
  2. Substitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal.
  3. Kontradiksi, yaitu menolak pesan verbal atau memberikan makna yang lain terhadap pesan verbal.
  4. Komplemen, yaitu melengkapi dan memperkaya makna pesan nonverbal.
  5. Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahi.
Psikologi Komunikasi
Pada dasarnya komunikasi itu merupakan suatu proses yang mempunyai karakteristik dan fungsi yang khas. Ciri khas komunikasi adalah bahwa komunikasi merupakan proses yang dinamis tidak dapat diulang dan diubah. Adapun fungsi komunikasi adalah selain untuk memahami diri kita sendiri dan orang lain juga memapankan hubungan yang bermakna serta mengubah sikap dan perilaku.

Komunikasi antarmanusia tidak pernah terlepas dari aspek psikologis manusia itu sendiri. Keterkaitan antara psikologi dan komunikasi pada dasarnya sangat besar. Psikologi komunikasi berkaitan dengan bagaimana mencapai komunikasi yang efektif dalam interaksi manusia.

Perkembangan psikologi komunikasi dari seorang manusia juga terbentuk oleh banyak faktor baik itu bersifat bawaan yaitu sesuatu yang ada pada seseorang bersamaan dengan kehadirannya atau bawaan genetik. Banyak anak yang tumbuh dengan keadaan perilaku yang secara psikologi terbilang tidak normal. Terkadang ada anak yang terbilang agresif sehingga dia tidak mampu mengkomunikasikan dengan tepat bagaimana perasaannya (Hildayani, 2006 : 13)

Ada beberapa pendapat dari pakar psikologi mengenai pengertian komunikasi dalam perspektif psikologi diantaranya Hovland, Janis dan Kelly (dalam Komala, 2009 : 74) yang mendefinisikan komunikasi sebagai “the process by wich an individual (the communicator) transmits stimuly (usually verbal) to modify the behavior of other individuals (the audiences). Yang artinya “proses dimana seorang individu (komunikator) mengirimkan rangsangan (biasanya verbal) untuk mengubah perilaku individu lain (khalayak)”.

Dengan demikian psikologi komunikasi adalah ilmu yang berusaha menguraikan, meramalkan, dan mengendalikan peristiwa mental dan behavioral dalam komunikasi (Miller dalam Rakhmat, 2009 : 9).

Menguraikan berarti menganalisis suatu tindakan komunikasi bisa terjadi. Apa yang terjadi dalam diri kita sehingga tindakan itu muncul. Sedangkan meramalkan membawa kita pada pengertian bahwa dengan membuat generalisasi tertentu atas sejumlah perilaku tertentu yang dihubungkan dengan kondisi psikologis tertentu, maka kita akan bisa meramalkan bentuk perilaku apa yang akan muncul jika suatu stimulus diberikan kepada orang dengan karakter psikologis tertentu. Sementara mengendalikan adalah kita bisa melakukan campur tangan tertentu (manipulasi), jika kita menginginkan atau tidak menginginkan suatu efek tertentu dari suatu komunikasi yang terjadi. 

Tubbs dan Moss dalam Rakhmat, (2009 : 13-15) menyebutkan lima tolak ukur efektivitas komunikasi yaitu:
  1. Pengertian, artinya penerimaan yang cermat dari isi stimuli seperti yang dimaksud oleh komunikator. Kegagalan menerima isi pesan secara cermat disebut kegagalan komunikasi primer.
  2. Kesenangan, artinya ketika kita berkomunikasi dengan orang lain misalnya mengucapkan salam. Komunikasi itu hanya dilakukan untuk mengupayakan agar orang lain timbul rasa kesenangan. Inilah yang menjadikan hubungan kita hangat, akrab dan menyenangkan.
  3. Memengaruhi sikap, artinya seringkali kita melakukan komunikasi untuk memengaruhi orang lain. Misalnya guru ingin mengajak muridnya lebih mencintai ilmu pengetahuan. Ini disebut juga dengan komunikasi persuasif. 
  4. Hubungan sosial yang baik, artinya komunikasi juga ditujukan untuk menumbuhkan hubungan sosial yang baik. Secara singkat, kita ingin bergabung dan berhubungan dengan orang lain, mengendalikan dan dikendalikan, mencintai dan dicintai. Kebutuhana sosial ini hanya dapat dipenuhi dengan komunikasi interpersonal yang efektif.
  5. Tindakan, artinya efektivitas komunikasi biasanya diukur dari tindakan nyata yang dilakukan komunikator dan komunikan. Tindakan adalah hasil kumulatif seluruh proses komunikasi. Ini bukan saja memerlukan pemahaman tentang seluruh mekanisme psikologis yang terlibat dalam proses komunikasi, tetapi juga faktor-faktor yang memengaruhi perilaku manusia.
Banyak teori dalam ilmu komunikasi yang dilatarbelakangi konsepsi-konsepsi tentang manusia. Psikologi telah banyak melahirkan teori-teori tentang manusia tetapi empat pendekatan yang paling dominan adalah psikoanalisis, behaviorisme, psikologi kognitif, psikologi humanistik. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing pendekatan tersebut:

1. Psikoanalisis 
Psikoanalisis adalah menganalisis manusia berdasarkan perkembangan kepribadian atau proses sosialisasi serta mengidentifikasi agresi kebudayaan dan perilaku. Dalam pandangan psikoanalisis, kepribadian manusia merupakan interaksi antara Id, Ego, dan Superego. Id sering dipandang sebagai nafsu yang memuat dorongan-dorongan biologis kita. Ego adalah kesadaran akan realitas. Ego yang bergerak atas prinsip realitas adalah struktur kepribadian yang membawa kita untuk menjejak pada kenyataan sosial. Superego dipandang sebagai polisi kepribadian, hati nurani yang berupaya mewujudkan keinginan-keinginan ideal kita yaitu norma-norma sosial dan kultural masyarakat kita.

2. Behaviorisme
Menurut behaviorisme analisis perilaku manusia hanya berdasarkan perilaku yang nampak serta dapat diukur. Behaviorisme juga sangat percaya bahwa perilaku manusia merupakan hasil dari proses belajar. Menurut Bandura dalam Rakhmat (2009 : 25) melakukan suatu perilaku tertentu manusia memerlukan peneguhan sedangkan kemampuan potensial untuk melakukan ditentukan oleh peniruan dalam suatu proses belajar sosial.

3. Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif memandang manusia sebagai mahluk yang selalu berusaha memahami lingkungannya, mahluk yang selalu berpikir. Perilaku manusia harus dilihat dari konteksnya. Perilaku manusia bukan sekedar hasil dari proses menanggapi stimulus yang diterimanya. Pada dasarnya teori ini menyatakan bahwa manusia cenderung mengalami ketegangan pada saat kebutuhan psikologisnya belum terpenuhi.

4. Psikologi Humanistik
Manusia dalam psikologi humanistik, manusia dikenal dengan kehidupan yang pengalaman pribadinya unik. Antarpribadi yang memiliki pengalaman unik inilah kita berinteraksi dalam kehidupan sosial. Manusia berupaya mencari makna kehidupannya, kehadirannya di lingkungan serta apa yang dapat diberikannya kepada lingkungan. Kecenderungan batiniah manusia ialah menuju kesehatan dan keutuhan diri (Rogers dalam Mutmainah, 1996 : 20). Dalam kondisi yang normal ia berperilaku rasional dan konstruktif, serta memilih jalan menuju pengembangan dan aktualisasi diri. Kesimpulannya psikologi humanistik bertumpu pada tiga dasar yaitu keunikan manusia, pentingnya nilai dan makna serta kemampuan manusia untuk mengembangkan diri.

Konstruksi Atas Realitas Sosial
Pada umumnya teori dalam paradigma definisi sosial sebenarnya berpandangan bahwa manusia adalah aktor yang kreatif dari realitas sosialnya. Dalam arti, tindakan manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai dan sebagainya, yang kesemuanya itu tercakup dalam fakta sosial yaitu tindakan yang menggambarkan struktur dan pranata sosial (Ritzer dalam Bungin, 2008 : 187).

Manusia dalam banyak hal memiliki kebebasan untuk bertindak di luar batas kontrol struktur dan pranata sosialnya di mana individu berasal. Karena itu, paradigma definisi sosial lebih tertarik terhadap apa yang ada dalam pemikiran manusia tentang proses sosial, terutama para pengikut interaksi simbolis. Dalam proses sosial, individu manusia dipandang sebagai pencipta realitas sosial yang relatif bebas di dalam dunia sosialnya.

Dalam penjelasan ontologi paradigma konstruktifis, realitas merupakan konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu. Namun demikian kebenaran suatu realitas sosial bersifat nisbi, yang berlaku sesuai konteks spesifik yang dinilai relevan oleh pelaku sosial (Hidayat dalam Bungin, 2008 : 187).

Max Weber dalam Bungin (2008 : 188) melihat realitas sosial sebagai perilaku sosial yang memilik makna subjektif, karena itu perilaku memiliki tujuan dan motivasi. Perilaku sosial itu menjadi “sosial”, oleh Weber dikatakan, kalau yang dimaksud subjektif dari perilaku sosial membuat individu mengarahkan dan memperhitungkan kelakuan orang lain dan mengarahkan kepada subjektif itu.

Pada kenyataannya, realitas sosial tidak berdiri sendiri tanpa kehadiran idividu, baik di dalam maupun di luar realitas tersebut. Realitas sosial itu memiliki makna, ketika realitas sosial dikonstruksi dan dimaknakan secara subjektif oleh individu lain sehingga memantapkan realitas itu secara objektif. Individu mengkonstruksi realitas sosial, dan merekonstruksikannya dalam dunia realitas, memantapkan realitas itu berdasarkan subjektivitas individu lain dalm institusi sosialnya.

Membicarakan teori konstruksi sosial tak dapat melupakan gagasan dari dua tokoh sosiologi yakni Peter L Berger dan Thomas Luckmann. Teori konstruksi sosial, sejatinya dirumuskan kedua akademisi ini sebagai suatu kajian teoritis dan sistematis mengenai sosiologi pengetahuan.

Konstruktivisme dapat dilihat sebagai sebuah kerja kognitif individu untuk menafsirkan dunia realitas yang ada, karena terjadi relasi sosial antara individu dengan lingkungan atau orang di sekitarnya. Kemudian individu membangun sendiri pengetahuan atas realitas yang dilihatnya itu berdasarkan pada struktur pengetahuan yang telah ada sebelumnya. Konstruktivisme macam ini yang oleh Berger dan Luckmann (1990 : 1), disebut dengan konstruksi sosial.

Berger dan Luckmann (1990 : 1) memulai penjelasan realitas sosial dengan memisahkan pemahaman “kenyataan” dan “pengetahuan”. Realitas diartikan sebagai kualitas yang terdapat di dalam realitas-realitas, yang diakui memiliki keberadaan (being) yang tidak tergantung kepada kehendak kita sendiri. Sedangkan pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata (real) dan memiliki karakteristik yang spesifik.

Berger dan Luckmann (1990 : 61) mengatakan, institusi masyarakat tercipta dan dipertahankan atau diubah melalui tindakan dan interaksi manusia. Meskipun masyarakat dan institusi sosial terlihat secara nyata secara objektif, namun pada kenyatannya semuanya dibangun dalam definisi subjektif melalui proses interaksi.

Berger dan Luckmann meyakini secara substantif bahwa realitas merupakan hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuatan konstruksi sosial terhadap dunia sosial di sekelilingnya, “reality is socially constructed”. Teori dan pendekatan konstruksi sosial atas realitas terjadi secara simultan melalui tiga proses sosial, yaitu (1) eksternalisasi (penyesuaian diri) dengan dunia sosiokultural sebgai produk manusia, (2) objektivasi, yaitu interaksi sosial yang terjadi dalam dunia intersubjektif yang dilebagakan atau mengalami proses institusionalisasi dan (3) internalisasi, yaitu proses yang mana individu mengidentifikasikan dirinya dengan lembaga-lembaga sosial atau organisasi sosial tempat individu menjadi anggotanya (Bungin, 2008 : 193).

Menurut Berger dan Luckmann (Nugroho dalam Bungin, 2008 : 192) pengetahuan yang dimaksud adalah realitas sosial masyarakat. Realitas sosial tersebut adalah pengetahuan yang bersifat keseharian yang hidup dan berkembang di masyarakat, seperti konsep, kesadaran umum, wacana publik, sebagai hasil dari konstruksi sosial. Realitas sosial dikonstruksi melalui proses eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Menurut Berger dan Luckmann, konstruksi sosial tidak berlangsung dalam ruang hampa, namun sarat dengan kepentingan-kepentingan.

Menurut Berger dan Luckmann (Subiakto dalam Bungin, 2008 : 192) realitas sosial yang dimaksud adalah terdiri dari realitas objektif, realitas simbolis, dan realitas subjektif. Realitas objektif adalah realitas yang terbentuk dari pengalaman di dunia objektif yang berada di luar diri individu, dan realitas ini dianggap sebagai kenyataan. Realitas simbolis merupakan ekspresi simbolis dari realitas objektif dalam berbagai bentuk. Sedangkan realitas subjektif adalah realitas yang terbentuk sebagai proses penyerapan kembali realitas objektif dan simbolis ke dalam individu melalui proses internalisasi.

Intinya adalah konstruksi sosial merupakan pembentukan pengetahuan yang diperoleh dari hasil penemuan sosial. Realitas memiliki makna ketika realitas sosial tersebut dikonstruksi dan dimaknakan secara subjektif oleh orang lain sehingga memantapkan realitas tersebut secara objektif. Konstruksi sosial realitas merupakan teori yang mengasumsikan sebuah persetujuan berkelanjutan atas makna, karena orang-orang berbagi sebuah pemahaman mengenai realitas tersebut (Baran & Davis, 2009: 383).

Analisis Wacana Kritis
Analisis wacana adalah studi tentang struktur pesan dalam komunikasi atau telaah mengenai aneka fungsi (pragmatik) bahasa. Analisis wacana lebih melihat pada “bagaimana” (how) dari pesan atau teks komunikasi. Lewat analisis wacana kita bukan hanya mengetahui isi teks berita, tetapi juga bagaimana pesan itu disampaikan. Dengan melihat bagaimana bangunan struktur kebahasan tersebut, analisis wacana lebih bisa melihat makna yang tersembunyi dari suatu teks (Eriyanto,2001 : 15).

Ada tiga pandangan mengenai bahasa dalam analisis wacana. Pandangan pertama yaitu positivisme-empiris yang melihat bahasa sebagai jembatan antara manusia dengan objek di luar dirinya. Pengalaman-pengalaman manusia dianggap dapat secara langsung diekspresikan melalui penggunaan bahasa tanpa ada kendala sejauh ia dinyatakan dengan memakai pernyataan-pernyataan yang logis, sintaksis dan memiliki hubungan dengan pengalaman empiris. Salah satu ciri dari pemikiran ini adalah pemisah antara pemikiran dan realitas. 

Pandangan kedua adalah konstruktivisme yang banyak dipengaruhi pemikiran fenomenologi. Dalam konstruktivisme, bahasa tidak lagi hanya dilihat sebagai alat untuk memahami realitas objektif belaka dan yang dipisahkan dari subjek sebagai penyampai pernyataan. Konstruktivisme justru menganggap subjek sebagai faktor sentral dalam kegiatan wacana serta hubungan-hubungan sosialnya.

Pandangan ketiga disebut sebagai pandangan kritis. Pandangan ini ingin mengoreksi pandangan konstruktivisme yang kurang sensitif pada proses produksi dan reproduksi makna yang terjadi secara historis maupun institusional. Analisis wacana dalam paradigma ini menekankan pada konstelasi kekuatan yang terjadi pada proses produksi dan reproduksi makna. Bahasa disini tidak dipahami sebagai medium netral yang terletak di luar diri si pembicara. Tetapi merupakan representasi yang berperan dalam membentuk subjek tertentu maupun strategi di dalamnya.

Dalam analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis / CDA), wacana disini tidak dipahami semata sebagai studi bahasa. Pada akhirnya, analisis wacana memang menggunakan bahasa dalam teks untuk dianalisis, tetapi bahasa yang dianalisis disini agak berbeda dengan studi bahasa dalam pengertian linguistik tradisional. Bahasa dianalisis bukan dengan menggambarkan semata dari aspek kebahasaan, tetapi juga menghubungkan dengan konteks. Konteks disini berarti bahasa itu dipakai untuk tujuan dan praktik tertentu, termasuk di dalamnya praktik kekuasaan.

Menurut Fairclough dan Wodak, (Eriyanto 2009 : 7), analisis wacana kritis melihat wacana sebagai bentuk dari praktik sosial. Menggambarkan wacana sebagai praktik sosial menyebabkan sebuah hubungan dialektis diantara peristiwa diskursif tertentu dengan situasi, institusi, dan struktur sosial yang membentuknya. Analisis wacana kritis melihat bahasa sebagai faktor penting, yakni bagaimana bahasa digunakan untuk melihat ketimpangan kekuasaan dalam masyarakat terjadi. Analisis wacana kritis menyelidiki bagaimana melalui bahasa kelompok sosial yang ada saling bertarung dan mengajukan versinya masing-masing.

Analisis Wacana Teun A. Van Dijk
Dari sekian banyak model analisis wacana yang diperkenalkan dan dikembangkan, model Van Dijk adalah model yang paling banyak dipakai. Model yang dipakai Van Dijk ini sering disebut sebagai “kognisi sosial”. Istilah ini sebenarnya diadopsi dari pendekatan dari lapangan psikologi sosial, terutama untuk menjelaskan struktur dan proses terbentuknya suatu teks. Menurut Van Dijk, penelitian atas wacana tidak cukup hanya didasarkan pada analisis atas teks semata, karena teks hanya hasil dari suatu praktik produksi yang juga harus diamati.

Van Dijk tidak hanya mengeksklusi modelnya hanya dengan menganalisis teks semata. Ia juga melihat bagaimana struktur sosial, dominasi, dan kelompok kekuasaan yang ada dalam masyarakat dan bagaimana kognisi / pikiran dan kesadaran yang membentuk dan berpengaruh terhadap teks tertentu.

Wacana oleh van Dijk digambarkan mempunyai tiga dimensi / bangunan, yaitu teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Van Dijk menggabungkan ketiga dimensi wacana tersebut ke dalam satu kesatuan analisis. Dalam dimensi teks, yang diteliti adalah bagaimana struktur teks dan strategi wacana yang dipakai untuk menegaskan suatu tema tertentu. Pada level kognisi sosial dipelajari proses produksi teks berita yang melibatkan kognisi individu dari wartawan. Sedangkan aspek ketiga yaitu konteks sosial mempelajari bangunan wacana yang berkembang dalam masyarakat akan suatu masalah.

Van Dijk melihat suatu teks terdiri atas beberapa struktur / tingkatan yang masing-masing bagian saling mendukung. Ia membaginya dalam tiga tingkatan. Pertama, struktur makro. Ini merupakan makna global / umum dari suatu teks yang dapat diamati dengan melihat topik atau tema. Kedua, superstruktur. Ini merupakan struktur wacana yang berhubungan dengan kerangka suatu teks, bagaimana bagian-bagian teks tersusun ke dalam berita secara utuh. Ketiga struktur mikro adalah makna wacana yang dapat diamati dari bagian kecil dari suatu teks yakni kata, kalimat, proposisi, anak kalimat, paraphrase, dan gambar.

Menurut van Dijk, segala teks bisa dianalisis dengan menggunakan elemen tematik, skematik, semantik, sintaksis, stilistik dan retoris. Elemen tematik menunjuk pada gambaran umum atau tema dari suatu teks. Elemen skematik mengamati bagaimana bagian dan urutan dari suatu teks atau wacana. Semantik mengamati makna yang ingin ditekankan dalam teks. Kemudian sintaksis menunjuk pada bagaimana kalimat (bentuk, susunan) yang dipilih. Stilistik pada bagaimana pilihan kata yang dipakai dalam teks. Kemudian yang terakhir pada elemen retoris menganalisis bagaimana dan dengan cara penekanan sutu teks. Elemen ini ditampilkan dengan penggambaran detail berbagai hal yang ingin ditonjolkan dalam sebuah wacana (Eriyanto, 2009 : 221-229).

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pengertian Komunikasi Massa Menurut Ahli"

Posting Komentar