Pengertian Inovasi Pendidikan Islam Menurut Ahli

Pengertian Inovasi Pendidikan Islam
1. Pengertian Inovasi
Inovasi berasal dari kata latin “Innovation” yang berarti pembaruan dan perubahan. Kata kerjanya “innovo” yang artinya memperbarui dan mengubah. Inovasi ialah suatu perubahan yang baru menuju ke arah perbaikan yang lain atau berbeda dari yang ada sebelumnya, yang dilakukan dengan sengaja dan berencana (tidak secara kebetulan saja). Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia, dijelaskan bahwa inovasi adalah pemasukan atau pengenalan hal-hal yang baru, pembaharuan, penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat)

Menurut Muhammad Yunus, inovasi adalah macam-macam “perubahan” genus. Inovasi sebagai perubahan yang disengaja, baru, dan khusus untuk mencapai tujuan-tujuan sistem. Jadi perubahan ini dikehendaki dan direncanakan. Definisi inovasi tersebut di atas terlihat dengan jelas tidak mengandung adanya perbedaan yang mendasar. Oleh karena itu, dapat diambil benang merah bahwa inovasi adalah suatu ide, hal-hal yang praktis, metode, cara, maupun barang bantuan manusia yang diamati atau dirasakan sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau seklompok orang (masyarakat). Hal-hal yang baru itu dapat berupahasil invensi dan discovery yang digunakan untuk mencapai tujuan tertentu dan diamati sebagai sesuatu yang baru bagi seseorang atau sekelompok masyarakat. Jadi inovasi adalah bagian dari perubahan sosial.

Kata inovasi identik dengan modernisasi. Inovasi dan modernisasi sama-sama bermakna perubahan sosial. Perbedaannya hanya terletak pada penekanan ciri dari perubahan. Jika inovasi lebih menekankan pada ciriadanya sesuatu yang diamati sebagai sesuatu yang baru bagi individu atau masyarakat, maka modernisasi menekankan pada adanya proses perubahan dari tradisional ke modern, atau dari belum maju ke arah yang sudah maju. Jadi, dapat disimpulkan bahwa diterimanya suatu inovasi sebagai tanda adanya modernisasi. Dalam konteks penelitian ini, inovasi yang dimaksud adalah pembaharuan dalam pembelajaran. Inovasi merupakan hal baru bagi lembaga pendidikan yang baru menerima dan tidak baru bagi lembaga pendidikan yang telah dirancang yang telah dirancang atau memulainya terlebih dahulu.

Menurut Rogers, hal-hal yang mempengaruhi cepat lambatnya penerimaan sebuah invoasi antara lain :
  1. Keuntungan relatif, yaitu sejauh mana dianggap menguntungkan bagi penerimanya.
  2. Kompatibel, yaitu kesesuaian inovasi dengan nilai, pengalaman dan kebutuhan penerima.
  3. Kompleksitas dan tingkat kesukaran, yaitu inovasi yang mudah akan cepatditerima.
  4. Triabilitas, yaitu dapat dicoba atau tidak. Artinya, inovasi yang dapat dicoba akan cepat diterima.
  5. Dapat diamati, artinya inovasi yang dapat di amati akan cepat diterima.
Dalam melaksanakan inovasi, ada beberapa hal yang harus di perhatikan:
  • Memulai dari hal-hal yang sederhana, dan jangan puas kepada sesuatu yang telah dihasilkan, bahkan sebaiknya justru ditingkatkan terusmenerus sampai pada hal yang lebih besar. Hasil tersebut bukan hanya untuk kepentingan sendiri, tetapi justru dapat menjangkau kepentingan masyarakat umum.
  • Jika sudah dapat melaksanakan inovasi, jangan lupa diri, apalagi merasa lebih atau paling berhasil, paling sukses, dan paling berhak. Hendaknya perasaan “paling” supaya dihindari dan diganti dengan rasa penuh syukur.
  • Mulailah dari apa yang ada, jangan mengada-ada, apalagi mengharapkan sesuatu yang diluar jangkauan. Sebaiknya “berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian”, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian, jangan muluk-muluk diluar jangkauan.
  • Dalam inovasi dituntut adanya suatu keberanian untuk bertindak mengambil langkah. Melakukan inovasi perlu resiko. Namun dengan sikap optimise bahwa kegiatan yang dilakukan itu akan membawa perubahan yang berarti.
  • Agar inovasi itu berari atau membawa kebutuhan. Oleh karena itu, konsep inovasi harus efektif dan membawa hasil yang maksimal.
  • Dalam era globalisasi, masyarakat menuntut kualitas. Karena kualitas berada di atas kuantitas.
  • Penguasaan terhadap komunikasi bahasa mutlak diperlukan pada era globalisasi.
  • Bagitu juga kemampuan teknologi digital merupakan kebutuhan pada era globalisasi. Dalam konteks inovasi pendidikan merupakan suatu keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi.
Dari paradigma tersebut di atas, dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa inovasi adalah hal yang baik dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan, diawali dari hal yang sederhana, kemudian diteruskan dengan gagasan yang lebihbesar.

2. Pengertian Pendidikan Islam
Pandangan klasik tentang pendidikan pada umumnya dikatakan sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungsi sekaligus.
  • Pertama : Menyiapkan generasi muda untuk memagang peranan tertentu dalam masyarakat di masa mendatang.
  • Kedua : Mentransfer (memindahkan) pengetahuan sesuai peranan yang diharapkan, dan butir
  • Ketiga : Mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara kebutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup (survive) masyarakat dan peradaban.
Dari fungsi itu terlihat, ternyata pendidikan bukan hanya sebagai transfer knowledge (memindahkan pengetahuan) tetapi juga transfer of value (memindahkan nilai).

Dalam perkembangan berikutnya, akesentuasi pengertian pendidikan itu sejalan dengan perkembangan tuntutan masyarakat. Dari sini lahir, misalnya dua fungsi suplementer yaitu melestarikan tata sosial dan tata nilai yang ada dalammasyarakat dan sekaligus agen pembaharuan.

Konsep pendidikan model Islam, tidak hanya meihat bahwa pendidikan itu sebagai upaya “mencerdaskan” semata (pendidikan intelek, kecerdasan) melaikan juga sebagai upaya dalam pembentukan kepribadian manusia.

Istilah “Pendidikan” dalam konteks term “At-Tarbiyah, At-Ta’lim, At-Ta’dib dan Ar-Riyadoh. Term-term tersebut tampaknya yang berkembang dan seiring dipergunakan oleh mayoritas ahli pendidikan Islam untuk menyebutkan istilahpendidikan adalah At-Tarbiyah. Karena mengingat cakupan yang dicerminkannya lebih luas dan bahkan istilah tarbiyah sekaligus mengimplikasikan makna dan maksud yang dicakup At-Ta’lim dan Ta’dib. Sehingga untuk menyebutkan pendidikan Islam menjadi tarbiyah Islamiyah.

Namun dalam hal ini Prof. Dr. Syed H. Al-Naquib Al-Attas, term At-Tarbiyah pada dasarnya mengandung arti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memelihara, membuat, menjadikan bertambah dalam pertumbuhan, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakkan. Sehingga term at-Tarbiyah dianggapnya tidak sesuai untuk menyebutkan pendidikan Islam akhirnya Al-Attas menyatakan bahwa term At-Tarbiyah pada dasarnya mengandung arti mengasuh, menanggung, memberi makan, mengembangkan, memeliahara, membuat, menjadikan bertambah dalam pertumbuhan, membesarkan, memproduksi hasil-hasil yang sudah matang dan menjinakkan. Sehingga term at-Tarbiyah dianggapnya tidak sesuai untuk menyebutkan pendidikan Islam akhirnya al-Attas mengajukan istilah ta’dib untuk menggantikan at-Tarbiyah. 

Dan ini dinilai mencakup pengetahuan (ilmu), pengajaran (ta’lim) dan pengasuhan yang baik (tarbiyah). Artinya ta’dib tidak difahami terlalu sempit sekedar mengajar saja dan tidak meliputi makhluk lain selain dari manusia. Selain itu ta’dib erat kaitannya dengan kondisi ilmu dalamIslam yang termasuk dalam isi pendidikan. Sedangkan pada term ta’lim, Al-Attas mengartikannya dengan pengajaran tanpa adanya pengenalan secara mendasar.Namun apabila at-Ta’lim disinonimkan dengan at-Tarbiyah, at-Ta’lim mempunyaimakna pengenalan tempat segala sesuatu dalam sebuah sistem.

Sementara itu menurut Dr. Abdul Fattah Jalal, pengarang Min Al-Usul at-Tarbiyah fi al Islam, Istilah ta’lim menurutnya lebih relevan, karena memilikijangkauan lebih luas dibandingkan istilah tarbiyah yang sebenarnya berlaku hanyauntuk anak kecil saja, yang dimaksudkan sebagai proses persiapan dan pengasuhanpada fase pertama pertumbuhan manusia atau lebih dikenal dengan fase bayi dan kanak-kanak.

Sebaliknya term ar-Riyadhoh, hanya khusus dipakai oleh Imam al-Ghozali, dengan istilahnya “Riyadhotus Shibyan” artinya pelatihan terhadap pribadi individu pada fase kanak-kanak. Imam al-Ghozali dalam mendidik anak lebih menekankan aspek efektif dan psikomotoriknya dibandingkan dengan aspek kognitif. Hal ini karena jika anak kecil sudah terbiasa untuk berbuat sesuatu yangpositif, maka masa remaja atau dewsanya akan lebih mudah untuk berkepribadian yang sholeh dan secara otomatis pengetahuan yang bersifat kognitif lebih mudah diperolehnya. Namun sebaliknya jika mulai kecil terbiasa berbuat naïf, maka dihari tuanya, anak tersebut sulit membiasakan aktivitas baik walaupun keilmuannyasudah memadai. Berdasarkan hal tersebut, Al-Ghazali memakai istilah ar-Riyadhoh dalam konteks pendidikan Islam adalah mendidik jiwa anak dengan akhlak yang mulia. Pengertian ini tidak dapat disamakan dengan pengertian ar-Riyadhoh dalam pandangan ahli sufi dan ahli olah raga. Ahli sufi menta’rifkan arRiyadhoh dengan menyendiri pada hari tertentu untuk beribadah dan tafakkur mengenai hak-hak dan kewajiban orang mukmin. Tetapi ahli olah raga mendefinisikannya aktifitas tubuh untuk menguatkan jasad manusia sebagai istilahalternatif dalam pendidikan Islam.

Dari beberapa pengertian term di atas, para ahli pendidikan Islam mencoba memformulasikan hakekat pendidikan Islam sebagai berikut :

Demikian pula Dr. Muhammad Fadlil Al-Jamali memberikan arti pendidikan Islam dengan upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak manusia lebih maju dengan berlandaskan nilai-nilai yang tertinggi dan kehidupan yang mulia, sehingga terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan akal, perasaan, maupun perbuatan.

Dr. Omar Al-Toumy al-Syaibani memberikan pendidikan Islam dengan proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat dan alam sekitanya, dengan cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dalam masyarakat.

Sedangkan dalam rumusan seminar pendidikan se Indonesia tahun 1960, memberikan pengertian pendidikan Islam sebagai bimbingan terhadap pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan, mengerjakan, melatih, mengasuh dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam. Istilah bimbingan, mengarahkan, dan mengasuh serta mengajarkan atau melatih mengandung pengertian usaha mempengaruhi jiwa anak didik melalui proses setingkat menuju tujuan yang ditetapkan yaitu menanamkan tujuan akhlak serta menegakkan kebenaran sehingga terbentuklah manusia yang berpribadi danberbudi luhur sesuai dengan ajaran Islam.

Berdasarkan pengertian mengenai Inovasi dan Pendidikan Islam tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Inovasi Pendidikan Islam merupakan suatu perubahan atau pembaharuan yang dilakukan menuju kondisi yang lebih baik untuk tercapainya tujuan pendidikan yang dicita-citakan yaitu pendidikan yang selaras dengan nilai-nilai luhur agama Islam.

Dasar dan Tujuan Inovasi Pendidikan Islam
Dasar adalah pangkal tolak dari suatu aktivitas atau landasan tempat berpijak atas tegaknya sesuatu. Dasar pelaksanaan pendidikan Islam adalah :

1. Al-Qur’an
Islam adalah agama yang membawa misi agar umatnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran. Ayat al-Qur’an yang pertama kali turun adalah berkenaan dengan masalah keimanan juga
masalah pendidikan. Allah berfirman :

Artinya : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan.
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan tuhanmulah, yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.(QS. Al-‘Alaq:1-5)

Dari ayat tersebut diatas dapatlah disimpulkan bahwa seolah-olah Tuhan berkata hendaknya manusia meyakini akan adanya Tuhan Pencipta manusia (dari segumpal darah), selanjutnya untuk memperkokoh keyakinannya dan memeliharanya agar tidak luntur hendaknya melaksanakan pendidikan dan pengajaran.

Selain surat Al-Alaq ayat 1-5 sebagai dasar pelaksanaanpendidikan, masih banyak ayat al-Qur’an yang dapat dijadikan sebagai dasar dalam pendidikan Islam yaitu :

  • Surat Al-Baqarah ayat 31

Artinya : Dan Dia mengajarkan kepada adam nama-nama (bendabenda) seluruhnya kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman : “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu, jika kamu memang benar-benar orang yang benar.”

Ayat ini menjelaskan manusia dapat dididik atau menerima pengajaran, karena untuk memahami segala sesuatu belum cukup kalau memahami apa, bagaimana serta manfaat benda itu tetapi harus memahami sampai pada hakikat benda itu.

  • Surat Adz-Dzariyat ayat 58

Artinya : Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.

Ayat ini menjelaskan tujuan pendidikan. Dengan ilmu pendidikan (khususnya pendidikan islam) manusia akan memiliki pendirian yang kuat dan tidak mudah terombang-ambing dengan pemikiran yang kurang jelas.
  • Surat Luqman ayat 12-19 menjelaskan tentang asas-asas dan materi pendidikan Islam.
  • Surat Al-A’rof ayat 179
Artinya : Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kebesaran Allah) dan mereka mempunyai telinga, tetapi tidak dipergunakan untuk mendenga (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Ayat diatas menjelaskan bahwa kita harus berfikir kritis dengan menggunakan panca indra yang telah diberikan oleh Allah.

Oleh karena itu Pendidikan Islam sangat berperan untuk mengarahkan cara berfikir kita agar dapat berfikir secara kritis untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.
  • Surat Al-Hasyr ayat 18
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk masa depan, dan bertaqwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Menetahui apa yang kamu kerjakan.

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah memperingatkan orang-orang yang beriman agar menatap masa depan. Dengan melakukan berbagai inovasi maka kita bisa mengembangkan berbagai hal khususnya ilmu pengetahuan demi masa depan yang lebih baik.

  • Surat An- Nahl ayat 125 dan surat Al- Anbiya’ ayat 107

Artinya : Ajaklah manusia ke jalan Tuhanmu dan hikmah (bijaksana) dan dengan pelajaran yang baik, dan sanggahlah mereka dengan cara yang lebih baik lagi.
Artinya : Dan tidaklah Kami mengutus engkau kecuali untuk menjadi rahmat bagi semesta alam 

Kedua ayat tersebut menjelaskan bahwa jika umat islam hendak mengelar dakwah Islam maka seharusnya mereka memperhitungkan dengan tepat berdasarkan data sejarah dan bekal yang dimiliki, sekaligus memperhatikan masa depan. Dan bila terjadi konfrontasi maka jawablah atau sanggahan yang diberikan kepada pihak lawan harus benar-benar baik. Dan yang terpenting bahwa dakwah tersebut membawa rahmat bagi semesta alam.

2. Al-Hadis
Banyak hadis yang dapat dijadikan sebagai dasar pendidikan Islam diantaranya adalah sabda Nabi SAW yang artinya “Mencari ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan (HR. Muslim)”.

Dari hadis di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Nabi saw memerintahkan agar umatnya menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran.

Adapun berbicara tentang tujuan pendidikan Islam berarti berbicara tetang nilai-nilai ideal yang bercorak Islam. Hal ini mengandung makna bahwa tujuanpendidikan tersebut tidak lain adalah tujuan yang merealisasikan idealisme Islam.

Sedang idealisme Islam itu sendiri pada hakekatnya adalah mengandung nilai perilaku manusia yang dijiwai atau didasari iman dan taqwa kepada Allah sebagai sumber kekuasan mutlak yang harus ditaati.20 Pendidikan Islam ingin membentuk  manusia yang menyadari dan melaksanakan tugas-tugas kekhalifahannya, dan memperkaya diri dengan khazanah ilmu pengetahuan tanpa mengenal batas, namun juga menyadari bahwa hakekat keseluruhan hidup dan pemilikan ilmu pengetahuan tersebut tetap bersumber dan bermuara pada Allah SWT sebagai Maha Pencipta dan Maha Mengetahui.

Tujuan terakhir dari pendidikan Islam itu terletak dalam realisasi sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara perorangan, masyarakat maupun sebagai hamba yang berserah diri kepada Khaliqnya, ia adalah hamba yang berilmu pengetahuan dan beriman secara bulat, sesuai kehendak penciptanya untuk merealisasikan cita-cita yang terkandung dalam kalimat ajaran Allah.

Setelah manusia bersifat menghambakan diri kepada Allah berartimanusia telah berada di dalam dimensi kehidupan yang mensejahteraankan dunia dan membahagiakan akhirat. Hal ini sesuai dengan do’a kita sehari-hari.Dengan kata lain pendidikan Islam bertujuan membentuk individu menjadi bercorak diri berderajat tinggi menurut ukuran Allah.

Rumusan tujuan akhir pendidikan Islam, telah disusun oleh para ulama dan ahli pendidikan Islam dari semua golongan, misalnya rumusan yang dihasilkan dari seminar pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7 – 11 Mei 1960 di Cipayung Bogor, bahwa tujuan Pendidikan Islam adalah menanamkan taqwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia yang berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam. Dari sini jelas bahwa membicarakan tujuan Pendidikan Islam tidak bisa lepas dari masalah nilai-nilai ajaran Islam itu sendiri.

Prof. Dr. Muhtar Yahya merumuskan tujuan Pendidikan Islam dengan sederhana sekali yaitu memberikan pemahaman ajaran-ajaran Islam pada anak didik dan membentuk keluhuran budi pekerti.21 Sebagaimana misi Rasulullah saw sebagai pengemban perintah menyempurnakan akhlak manusia untuk memenuhi kebutuhan kerja dalam rangka menempuh hidup bahagia dunia akhirat (QS. 16:97, 6:123). Dari rumusan di atas menunjukkan bahwa pendidikan, harus merealisasikan cita-cita (idealisme) Islam yang mencakup pengembangan kepribadian muslim yang bersifat menyeluruh secara harmonis berdasarkan potensi psikologis, dan fisiologis (jasmaniah) mansia yang mengacu kepada keimanan dan sekaligus berilmu pengetahuan secara berkesinambungan sehingga terbentuklah manusia muslim yang paripurna yang berjiwa tawakkal kepada Allah SWT.

Meskipun rumusan tujuan pendidikan itu berbeda-beda namun pada akhirnya rumusan itu menuju satu aspek prinsipil yang sama yaitu menghendaki terwujudnya nilai-nilai Islam dalam pribadi anak didik, yaitu keislaman, keimanan dan ketaqwaan yang didasarkan atas cita-cita hidup umat Islam yang menginginkan kehidupan duniawi dan ukhrowi yang bahagia secara harmonis.

Faktor-Faktor Yang Mendukung Tercapainya Pendidikan Islam
Dalam pelaksanakan inovasi Pendidikan Islam perlu memperhatikan faktor-faktor yang dapat mendukung tercapainya tujuan dan fungsi inovasi Pendidikan Islam tersebut. Faktor-faktor yang dapat mendukung tercapainya proses inovasi Pendidikan Islam antara lain :
  • 1. Faktor input atau pemasukan. Faktor input berupa anak didik yang diseleksi dengan menggunakan kriteria tertentu dan prosedur yang dapat dipertanggung jawabkan. Kriteria yang digunakan meliputi :
  1. Prestasi belajar siswa
  2. Nilai/skor-skor tes yang meliputi intelegensi dan kreatifitas
  3. Tes fisik
  • Sarana dan prasarana yang menunjang untuk pemenuhan kebutuhn belajar siswa serta dapat menyalurkan minat dan bakatnya, baik dalam bidang kurikuler dan ekstrakulikuler
  • Lingkunga belajar yang kondusif, baik lingkungan fisik maupun psikologis.
  • Guru dan tenaga kependidikan. Guru dan tenaga kependidikan kualifikasi mutu yang baik, sehingga sehingga rekrutmen diseleksi dengan ketat dan diberkan wahana pembinaan serta pengembangan intelektual serta fasilitas yang menunjang.
  • Kurikulum yang interatif, yaitu kurikulum yang dikembangkan dengan improvisasi secara maksimal antara kurikulum yang bersifat pragmatis , teoritis dan teologis.
  • Rentang wakltu belajar disekolah lebih panjang.sehingga disediakan fasilitas penunjang.
  • Proses belajar mengajar yang efektif dan berkualitas sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan kepada siswa, lembaga, dan masyarakat.

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Pengertian Inovasi Pendidikan Islam Menurut Ahli"

Posting Komentar